Politik Pemerintahan

Pertarungan Dua Mitos dalam Pilkada

Pengamat politik dari Universitas Jember, Agus Tri Hartono

Jember (beritajatim.com) – Pengamat politik dari Universitas Jember, Agus Tri Hartono, mengatakan, pemilihan kepala daerah adalah pertarungan dua mitos, yakni mitos mesin politik dan mitos pemilih independen.

“Kita akan melihat sebetulnya di era sekarang siapa yang paling signifikan, siapa yang paling mampu mendorong orang untuk memilih: apakah mesin politik ataukah pemilih yang independen,” kata Agus, dalam diskusi mengenai pemilihan kepala daerah di Gedung Sutardjo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (7/3/2020).

Saat ini muncul sejumlah calon kepala daerah dari jalur perseorangan dalam pemilihan tahun ini. “Ini pilihan menarik juga, karena publik memiliki pilihan-pilihan lebih luas. Ini bukan masalah baik atau buruk. Ini masalah realitas politik yang tidak sama seperti yang kita bayangkan sebelumnya,” kata Agus. Jika kemudian ternyata calon perseroangan mengalahkan calon kepala daerah yang diusung partai politik, Agus menduga, ada persoalan kepercayaan kepada partai politik.

Agus mengatakan, ketika mencalonkan diri dalam pemilihan politik, seseorang sudah punya kemampuam tertentu. “Masalahnya, apakah proses politik itu baik atau tidak,” katanya.

Di satu sisi, pemilih berdaulat penting. Namun di sisi lain, sajian sosok calon kepala daerah disediakan oleh partai politik. “Kita harus menikmati menu yang ada di meja yang orang lain memilihkan. Oleh karena itu pemimpin yang baik harus lahir dari proses politik yang baik. Jadi partai politik, penyelenggara pemilu, media massa harus support. Terakhir adalah pemilih yang cerdas,” kata Agus.

Survei menjadi alat akademik untuk mengetahui preferensi publik dan apa yang diinginkan publik. “Mencari orang yang dekat dengan keinginan publik, itu yang terpenting. Dan partai politik harus mengambil itu. Masalahnya, partai politik lebih terjebak pada bagaimana memenangkan calon, memenangkan elektoral politik. Tidak salah. Tapi pemilu harus ditaruh dalam bingkai yang lebih besar, yaitu pondasi kebangsaan. Buat apa kalau pemilu menjadi alat pembuat pilu. Pemilu adalah alat untuk menghasilkan siapapun yang terpilih ‘legitimate’,” kata Agus. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar