Politik Pemerintahan

Dialog Publik PWI dan Universitas Jember

Pertanian, Kunci Tanggulangi Pengangguran di Jember

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember Achmad Subagio. [FOTO: Humas Unej]

Jember (beritajatim.com) – Sektor pertanian adalah kunci untuk menanggulangi persoalan pengangguran di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Jember harus membuat sektor pertanian lebih menarik.

Tingkat pengangguran terbuka di Jember saat ini adalah 3,8 persen. Sementara penduduk miskin mencapai 9,25 persen atau 226.570 orang. “Persoalan pengangguran, sebenarnya didorong oleh rendahnya partisipasi masyarakat,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Jember Achmad Subagio, dalam acara dialog publik yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Universitas Jember, di DPRD Jember, Kamis (4/3/2021).

“Kalau kita lihat kontribusi pertanian dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) 26 persen. Ini tinggi sekali. Sayang sekali kontribusi pertanian tidak dimanfaatkan kita, karean petani biasanya menjual dalam bentuk produk mentah, sehingga mereka tidak dapat nilai tambah,” kata Subagio.

“Kalau bupati mau menciptakan lapangan kerja baru, maka usaha baru diletakkan di sektor pertanian. Yang kita dorong adalah munculnya pengusaha atau petani-petanui baru yang berasal dari orang miskin yang terlibat dalam proses pertanian itu dan mendapatkan nilai tambah,” kata Subagio.

Agusta Jaka Purwana, legislator Partai Demokrat, mencontohkan produk pengolahan pertanian di Thailand. “Setiap hasil pertanian, ada chip-nya, ada keripiknya. Setiap hasil laut segar juga ada keripiknya. Saya juga petani,” katanya.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di sektor pertanian. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jember Jumantoro mengatakan, generasi muda sulit diajak bertani. Apalagi akses permodalan tidak mudah.

“Bahkan untuk tanam saja, kami kesulitan (mencari tenaga pekerja). Untuk di Jember selatan, bisa menggunakan mesin karena tanahnya datar. Kalau di Jember utara, sulit menggunakan mesin, karena tanahnya terasiring,” kata Jumantoro.

Pemerintah juga harus mencegah alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi perumahan. “Sehingga ada kawasan hijau yang aman abadi, sehingga predikat Jember sebagai lumbung pangan bisa terjaga,” kata Jumantoro.

Jmantoro menyarankan perlunya pemerintah daerah menyediakan akses informasi pasar kepada petani. Selain itu, ketersediaan sarana produksi pertanian berupa pupuk juga harus dijamin.

‘Ketiga, kami berharap penguatan kelembagaan keleompok tani. Revitalisasi kelompok tani, karena pengurusnya sudah tua-tua. Diajak menyusun rencana kerja kelompok tidak maksimal,” kata Jumantoro. [wir/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar