Politik Pemerintahan

Persoalan Prinsipil Tembakau Rugikan Petani

Pamekasan (beritajatim.com) – Legislator Pamekasan, Suli Faris menyatakan terdapat dua faktor utama dan sangat prinsipil yang selalu menjadi ‘momok‘ bagi masyarakat petani tembakau, khususnya menjelang masa panen. Sehingga mengakibatkan para petani sangat sulit mendapat keuntungan dari usaha mereka.

Kedua poin tersebut seputar kebijakan dari pemerintah pusat, yakni kebijakan tentang kenaikan cukai tembakau dan kebijakan impor tembakau luar negeri. “Memang hampir setiap tahun dan mau masuk musim panen tembakau, selalu ada aksi yang menyorot seputar besaran sampel yang diambil pihak gudang,” kata Suli Faris kepada beritajatim.com, Sabtu (20/7/2019).

“Dalam praktiknya, ada pihak gudang yang mengambil sampel seberat 1/2 kilogram (kg) atau bahkan ada yang lebih dari 1 kg. Bahkan dalam regulasi daerah tentang tata niaga tembakau sudah dijelaskan secara gamblang, pengambilan sampel tidak boleh lebih dari 1 kg. Sebab kalau tidak (melanggar regulasi lebih dari 1 kg), bisa ditindak,” ungkapnya.

Namun menurutnya hal tersebut bukan persoalan utama, secara prinsip terdapat dua poin penting yang dinilai sangat merugikan petani tembakau khususnya di daerah berslogan Bumi Gerbang Salam. “Persoalan prinsip dan merugikan petani bukan hanya sekedar sampel, tapi kebijakan pemerintah seputar kenaikan cukai dan kebijakan impor tembakau,” tegasnya.

“Misal kebijakan pemerintah pusat yang selalu menaikkan cukai rokok, jika hal itu terjadi otomatis pihak pabrikan juga akan melakukan hal serupa. Sebab sebagai badan usaha, mereka tetap berpegang teguh agar produksi tetap berjalan, pasar tidak terganggu dan keuntungan tidak berkurang. Akibatnya petani lah yang justru dirugikan,” jelas politisi Partai Bulan Bintang (PBB).

Dengan kondisi tersebut, pihak pabrikan tentunya mencari celah dari sektor bahan pokok. Sebab mereka tidak mungkin mensiasati untuk kebutuhan bahan baku yang tetap berpatokan pada harga pasar. “Jadi kalau dari aspek bahan baku, semisal kertas, kardus dan lainnya tetap tidak bisa dicarikan celah. Otomatis yang ditekan pada aspek bahan pokok, yakni cengkeh dan tembakau,” imbuhnya.

“Termasuk juga kebijakan impor tembakau luar negeri jelas sangat merugikan petani, sebab kebijakan impor tanpa batas bagi pabrikan jelas sangat merugikan bagi petani. Jika hal (impor) ini dibiarkan, lagi dan lagi petani akan menjadi korban. Apalagi pihak pabrikan tentunya bakal mengandalkan tembakau impor dibandingkan tembakau petani,” sambung Suli.

Dari itu pihaknya menyampaikan selama kebijakan tersebut tetap berlaku, bukan tidak mungkin kerugian bakal selalu menimpa petani setiap musim tembakau. “Hemat kami, sangat sulit petani tembakau mendambangan keuntungan seperti yang mereka alami pada 15 tahun silam. Jika kebijakan tetap bertahan seperi saat ini,” pungkasnya. [pin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar