Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Perilaku Memilih Masyarakat Terhadap Pemilu 2024 Versi The Republic Institute

Surabaya (beritajatim.com) – Pada  tahun  2024  gegap  gempita pesta  demokrasi  di  Indonesia  akan  berlangsung riuh, baik ditingkat nasional maupun ditingkat lokal yaitu daerah provinsi, kabupaten dan kota. Fenomena Pemilu serentak segera dimulai, yakni Pemilu nasional dan Pemilu lokal diselenggarakan di tahun yang sama yaitu tahun 2024. Bila dihitung secara kalender tentu waktu yang tersisa secara penuh tinggal 28 bulan atau 2 tahunan, bagi partai politik dan para kandidat peserta pemilu baik calon Presiden, calon anggota DPR RI, calon Gubernur, DPRD Provinsi, Bupati, Walikota dan DPRD Kabupaten/Kota.

Oleh karena itu, kami dari The Republic Institute ingin menjadi bagian proses demokrasi ditingkat nasional maupun ditingkat lokal ini. Kehadiran kami bertujuan  untuk partisipasi publik sekaligus memberikan pendidikan politik kebangsaan,   dengan   cara   kerja-kerja   ilmiah   dan   akademik,   yakni dengan melakukan   penelitian   perilaku   memilih   (voting   behaviour),   riset   ini   bersifat independen dan transparan guna mengukur seberapa besar tingkat popularitas dan elektabilitas dari masing-masing calon kandidat partai politik peserta pemilu dan actor-aktor politik calon pemimpin menjelang dihelatnya penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2024.

Jenis Penelitian yang dilakukan adalah survei, teknik pengambilan sampel adalah multistage random sampling dengan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 1225 responden tersebar di 38 kabupaten dan kota di seluruh wilayah provinsi Jawa Timur, kemudian sampel diturunkan dari Provinsi ke tingkat Kabupaten/Kota, lalu ke tingkat Kecamatan, dilanjutkan ke tingkat Desa lalu diturunkan ke tingkat  RT, Rumah dan menentukan subjek penelitiannya. Proses pengambilan sampel (wawancara) dilakukan pada tanggal 1-13 September 2021, margin of error sebesar 2,8 %.

  1. Popularitas dan Elektabilitas Partai Politik

 Untuk melihat posisi popularitas partai, tampak sekali bagi semua partai yang memenuhi kursi di parlemen terlihat sangat signifikan popularitasnya, dimulai dari PKB (99,7%), PDIP (99,8%), (Golkar 99,8%), Demokrat (98,3%), Geindra (98,1%), PAN (91,6%), Nasdem (86,8%), PKS (84,4%), PPP (84,1) Hanura (71,0%),PSI (46,4%), PBB (41,7%), Berkarya (31,8%), Garuda (24,6%), PKPI (19,7%), Ummat (16,0%) dan Gelora (13,7%).

Dari data tersebut nampak bahwa partai partai yang selama ini sudah terlibat di pemilu-pemilu sebelumnya memang sudah memiliki popularitas yang sangat tinggi, bahkan sampai mau menyentuh angka 100, sedangkan untuk partai-partai baru, yang kemungkinan besar baru mau ikut pemilu di tahun 2024 juga memiliki popularitas yang lumayan, meskipun tidak besar, seperti Partai Ummat dan Partai Gelora.

Partai Ummat yang mendapatkan popularitas 16% ini lebih disebabkan karena ketokohan Amien Rais dan pembentukan DPC di beberapa wilayah sudah berjalan, serta popularitas juga didapat dari beberapa baliho Partai Ummat sudah nampak di beberapa wilayah, seperti Lamongan dan Tuban. Dan untuk Partai Gelora dengan persentase 13,7% juga disebabkan sudah mulainya dibentuk kepengurus partai di beberapa wilayah, disamping sudah mulai intennya beberapa kader Partai Gelora untuk merekrut kaum milenia. Hal yang berbeda terjadi pada PKPI, meskipun sudah ikut beberapa kali Pemilu, tetapi popularitasnya hanya 19,7%, hal ini terjadi karena salah satunya kepengurusan PKPI di wilayah tidak aktif, serta tidak adanya kegiatan-kegiatan yang sifatnya perekrutan dan sosialisasi ke masyarakat yang dilakukan PKPI. Lebih jelasnya bisa dilihat sebagaimana table berikut:

Sementara itu untuk tingkat keterpilihannya (elektabilitasnya) masyarakat Jawa Timur menempatkan pilihannya sebagai berikut: PKB (25,2%), PDIP (19,6%), Golkar (11,8%), Gerindra (11,7%), Demokrat (9,1%), Nasdem (4,2%), PPP (4,2%), PAN (3,4%), PKS (2,2%), Hanura (0,8%), Berkarya (0,4%), PSI (0,3%), Gelora (0,2%) dan Ummat (0,1%). Bila melihat kondisi data elektabilitas ini yang cukup mengalami kenaikan dari tren tahun sebelumnya yakni Golkar yang sudah peringkat 3 dan PAN yang tahun lalu masih dibawah 2% kini sudah di angka 3,6%.

Dari data tersebut, dapat dijelaskan bahwa, peningkatan PKB yang luar biasa besar ini terjadi salah satunya karena imbas di beberapa wilayah kabupaten bupatinya berasal dari kader PKB, seperti Sidoarjo, termasuk peningkatan PKB karena masyarakat melihat PKB saat ini lebih harmonis pada tataran kepengurusan, mulai tingkat kabupaten, provinsi sampai pusat. Yang tidak kalah besar peningkatan suaranya adalah Golkar, Golkar mampu menyodok di urutan ketiga hasil survei, padahal kalau kita lihat di Parlemen, Golkar urutan kelima setelah PDIP, PKB, Gerindra dan Demokrat. Peningatan Golkar ini disebabkan oleh beberapa alasan, pertama, tokoh – tokoh Golkar di wilayah banyak yang bergerak di bawah tanah seperti Sahat Simanjuntak, Zulfikar dan Hasan Irsyad. Kedua, beberapa pengurus partai dan aleg partai melaksanakan secara massal kegiatan-kegiatan sosial, seperti vaksinasi dan pembagian sembako. Ketiga, penguatan kembali golkar di wilayah wilayah pinggiran dan perbatasan imbas dari kondisi ekonomi saat ini.

Untuk Gerindra, meskipun turun dari urutan ketiga ke urutan keempat tapi masih cukup tinggi suaranya, mengingat selisih hasil survei terkait elektabilitas dengan Golkar yang hanya 0,1%, tingginya suara Gerindra ini disebabkan karena beberapa tokohnya sangat instens turun dan menyapa konstituennya, seperti Gus Fawaid dan Anwar Sadad. Sedangkan Partai Demokrat relatif staknan hal ini terjadi karena faktor ketokohan Emil serta ketokohan lokal yang masih mendukung demokrat tetap memberi persepsi positif bagi masyarakat, tetapi meskipun ada sedikit pengaruh dari imbas perebutan jabatan ketua demokrat Jatim di media yang sampai sekarang masih muncul, sehingga demokrat tidak meningkat secara siknifikan dan pemilihnya cenderung menunggu karena ragu-ragu.

Kemudian apa yang menyebabkan pilihan itu terjadi, ternyata masyarakat Jawa Timur tidak disebabkan hanya oleh satu variable saja yang kemudian mempengaruhi pilihannya; tetapi ada beberapa sebab yang mempengaruhinya yaitu sebagai berikut: tokoh partai (33,6%), ikut keluarga (15,4%), Lingkungan organisasi (14,1%), relawan (11,5%), idiologis (10,5%), ikut teman (5,7%), lainnya (5,7%).

  1. Popularitas dan Elektabilitas Calon Gubernur Jawa Timur

 Untuk melihat popularitas aktor politik yang potensial untuk berkompetisi dalam pemilihan Gubernur mendatang tahun 2024, tampaknya masih didominasi oleh tokoh-tokoh beken di Jawa Timur, sebagaimana posisi mereka tergambar dari pandangan masyarakat berikut: Khofifah (97,8%), Tri Risma (89,4%), Gus Ipul (87,4%), Emil Dardak (83,8%), La Nyalla (50,7%), Djarot S. Hidayat (48,6%), Bambang DH (48,2%), Sahat Simanjutak (39,6%), Sarmuji (38,8%), Gus Barra (38,7%), Haeny Relawati (32,7%), Thoriqul Haq (32,5%), M. Nur Arifin (31,7%), Muhammad Fawaid (30,4%), Arzeti Bilbina (29,9), Anwar Sadad (28,8%), Badrut Tamam (27,9%), Gus Halim (27,6%), Ony Anwar (27,2%), Ratna Juwita (27,2%), Anik Maslachah (23,7%), Gus Hans (23,7%), Kusnadi (23,6%), Heru Tjahyono (23,2%), Riski Sadiq (23,2%), Sri Sajekti (23,1), Fadil Muzakki (22,3%), Masfuk (22,1%) dan Irwan Setiawan (21,7%).

Popularitas diantara calon Gubenur terjadi lebih karena jabatan dan ketokohan calon yang bersangkutan, seperti Khofifah adalah gubernur & ketua Muslimat, kemudian Gus Ipul sebagai walikota dan pernah menjabat wakil gubernur, Risma sebagai Menteri Sosial dan keaktifan di media sosial yang luar biasa besar, Emil, sebagai Wagub dan PLT Demokrat Jatim.

Sementara itu untuk tingkat keterpilihannya (elektabilitasnya) bagi aktor-aktor politik potensial di Jawa Timur yang berpeluang ikut dalam kontestasi dalam pemilihan Gubernur mendatang apabila pilihannya sekarang maka hasil yang didapatkan sebagai berikut: Khofifah (38,1%), Tri Risma (23,9%), Gus Ipul (11,8%), Emil Dardak (6,0%), Sarmuji (1,4%), Gus Halim (0,7%), Ony Anwar (0,7%), Haeny Relawati (0,7%), Thoriqul Haq (0,7%), Muhammad Fawaid (0,4%), Fadil Muzakki (0,4%), Anwar Sadad (0,3%), Sahat Simanjutak (0,2%), Gus Barra (0,2%), Djarot S. Hidayat (0,2%), M. Nur Arifin (0,2%), La Nyalla (0,1%), dan yang belum menentukan (13,9%).

Tingginya suara Khofifah bisa dijelaskan karena Khofifah saat ini masih menjabat Gubernur serta gerakan kader-kader muslimat yang massif dan tetap mengingatkan ke masyarakat untuk tetap mendukung dan membantu program-program Khofifah. Sedangkan suara yang tinggi dari Risma karena Risma adalah seorang Menteri, memiliki sifat yang tegas dan selalu membela kaum kecil, termasuk Risma yang terus muncul di media social, terkait sikap Risma yang sering marah-marah di medsos, sebagian masyarakat menganggap itu adalah bentuk dari sikap tegas beliau melihat ketidaknormalan pada pelaksanaan bantuan social oleh aparat pemerintah, tetapi bukan merupakan sifat negatif dari Risma.

Untuk Gus ipul, lebih karena beliau seorang walikota dan mantan wakil gubernur. Sedangkan emil, disamping sebagai wakil gubernur juga peran popularitas istrinya sebagai artis cukup membantu dalam peningkatan elektabilitasnya.

Temuan risetnya bila dilihat dari sebaran elektabilitas bagi kandidat yang menempati 2 teratas dapat dibaca pada dukungan ormas dan dari pemilih partai politiknya. Temuan itu sebagai berikut:

  1. Khofifat dipilih oleh masyarakat sebagai jamaah ormas NU (40%), Muhammadiyah 35%, Ormas Islam Lain (33,3%), ormas dibawah gereja (15,7%), dibawah naungan Hindu (15,2%), dibawah naungan budha (14,3%); sementara itu dilihat dari pilihan partai politik; Golkar (47%) PKB (47,9%), Demokrat (40,9%), PDIP (27,5%), Nasdem (43%), PAN (45%), PPP (51%)
  2. Tri Rismaharini dipilih oleh masyarakat sebagai jamaah ormas NU (23%), Muhammadiyah 55%, Ormas Islam Lain (30%), ormas dibawah gereja (30%), dibawah naungan Hindu (33%), dibawah naungan budha (71%); sementara itu dilihat dari pilihan partai politik; Golkar (20,5%) PKB (15%), Demokrat (18%), PDIP (40,5%), Nasdem (27,5%), PAN (65%), PPP (51%). 
  1. Popularitas dan Elektabilitas Calon Presiden Menurut Masyarakat Jawa Timur

 Untuk melihat popularitas aktor politik yang potensial untuk berkompetisi dalam pemilihan Presiden mendatang tahun 2024, tampaknya masih juga didominasi oleh tokoh-tokoh beken yang sering dipublikasi oleh banyak media dan lembaga riset secara nasional, sebagaimana posisi mereka tergambar dari pandangan masyarakat sebagai berikut: Prabowo Subianto (98,8%), Khofifah (97,8%), Tri Rismaharini (85,8%), Sandiaga Uno (85,3%), Ganjar Pranowo (83,8%), Anies Baswedan (83,4%), Agus H. Yudhoyono (78,2%), Luhut  Panjaitan (72,6%), Airlangga Hartarto (65,3%), Puan Maharani (60,7%), Susi Pujiastutik (57,6%), Ridwan Kamil (55,7%), Muhaimin Iskandar (52,0%), La Nyalla (50,7), Tito Karnavian (46,3%).

Untuk Popularitas masing-masing calon persiden, baik Prabowo, Ganjar, Anies, Risma maupun Khofifah lebih disebabkan karena jabatan yang diemban sebagai Menteri dan kapala daerah, disamping karena faktor lain, seperti Ganjar yang sangat intens keluar di medsos, seperti tiktok  & youtube, Airlangga dan Puan, Balihonya sudah tersebar di beberapa titik wilayah, meskipun masih di jalan-jalan protokol, belum sampai ke desa-desa.  

Sementara itu untuk tingkat keterpilihannya (elektabilitasnya) bagi aktor-aktor politik potensial di tingkat nasional yang berpeluang ikut dalam kontestasi dalam pemilihan Presiden mendatang apabila pilihannya sekarang maka hasil yang didapatkan sebagai berikut: Ganjar Pranowo (31,4%), Prabowo Subianto (23,0%), Anies Baswedan (12,3%), Airlangga Hartarto (4,5%), Agus H. Yudhoyono (3,3%), Khofifah (3,2%), Tri Rismaharini (2,9%), Muhaimin Iskandar (2,2%), Ridwan Kamil (1,9%), Sandiaga Uno (1,5%), dan yang belum menentukan (11,6%).

Dari data tersebut, tampak bahwa Ganjar sangat mendominasi dari sisi elektabilitas, hal ini terjadi karena, Ganjar diidentifikasi oleh masyarakat Jawa Timur adalah sosok yang memiliki kepribadian dan jiwa kepemimpinan seperti Jokowi, dan masyarakat Jawa Timur sampai sekarang masih sangat mengidolakan Jokowi. Alasan lain elektabilitas Ganjar tinggi, karena sering muncul di media sosial, terutama televisi dan youtube, baik saat berkunjung ke lapangan maupun menyelesaikan masalah-masalah yang ditemukan di lapangan. Tingginya suara Ganjar juga disebabkan karena orangnya low profile, sehingga ketika turun di masyarakat sering langsung masuk warung dan ikut makan bersama-sama dengan masyarakat lain yang ada di warung, dan itu tidak ditemukan pada calon presiden yang lain.

Elektabilitas Prabowo yang tidak terlalu besar dan masih dibawah ganjar, dikarenakan Prabowo 2,5 tahun terakhir sebagai menteri dirasa belum menyelesaikan masalah-masalah di masyarakat, termasuk Prabowo jarang turun ke masyarakat untuk menyapa dan termasuk gebrakan terkait kebijakan yang prorakyat di masyarakat juga tidak ada.

Untuk Puan, dimana media baliho sudah tersebar tetapi tidak mendapatkan suara yang signifikan, dikarenakan masyarakat melihat Puan selama menjabat sebagai DPR, tidak ada produk kebijakan yang dihasilkan yang berdampak bagi masyarakat, termasuk tidak ada gebrakan sama sekali di DPR. Rendahnya Puan juga disebabkan jarang sekali turun ke masyarakat bawah, kalaupun turun hanya untuk memenuhi tugas sebagai ketua DPR mendampingi presiden. sebagaimana tergambar dalam table berikut:

Dilihat dari sebaran pilihannya terhadap para calon kandidat presiden di atas tampak sangat kuat dipartai politiknya masing-masing, walaupun tetap belum utuh secara mayoritas atas pilihan pemilihnya, sebagaimana tergambar berikut: Ganjar Pranowo didukung oleh pemilih PDIP (52,5%), pemilih NU (31%) dan pemilih Muhammadiyah (40%); Prabowo Subianto didukung oleh pemilih Gerindra (47%), pemilih NU (23%), pemilih Muhammadiyah (21%); Anies Baswedan didukung oleh pemilih PAN (25%), pemilih NU (11%), Muhammadiyah (18%); Airlangga Hartarto didukung oleh pemilih Golkar (21%), pemilih NU (3%), pemilih Muhammadiyah (7%); Agus H. Yudhoyono didukung oleh pemilih Demokrat (27%), pemilih NU (4%), pemilih Muhammadiyah (5%).

 

Penulis: Dr. Sufyanto
Direktur The Republic Institute dan Dosen Politik Univ. Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA)

 


Apa Reaksi Anda?

Komentar