Politik Pemerintahan

Penyelenggara Pemilu di Sumenep yang Meninggal Bertambah Jadi 6 Orang

Sumenep (beritajatim.com) – Jumlah penyelenggara pemilu di jajaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumenep yang meninggal ternyata bertambah.

Sesuai data terbaru KPU Sumenep, jumlah penyelenggara pemilu yang meninggal akibat kelelahan saat menjalankan tugasnya dalam Pemilu 2019 tidak lagi empat orang, melainkan enam orang.

Penyelenggara pemilu yang meninggal itu masing-masing bernama Asnawi, anggota PPS Desa Longos, Kecamatan Gapura. Dia meninggal setelah distribusi logistik dan monitoring penyebaran C6.

Selain itu, penyelenggara Pemilu yang meninggal adalah Syaiful, Ketua KPPS di TPS 03, Desa Tamidung, Kecamatan Batang-batang. Dia meninggal setelah mengantarkan kotak suara ke PPS.

Kemudian, Suliman, Ketua KPPS di TPS 06, Desa Kerta Barat, Kecamatan Dasuk, meninggal setelah penghitungan suara di TPS. Selain itu, penyelenggara pemilu yang meninggal adalah Hasis, anggota KPPS di Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, kemudian Yahya, anggota PPS di Desa Mandala, Kecamatan Rubaru, dan Akwiro, anggota KPPS di Desa Banmaleng, Kecamatan/Pulau Giligenting.

Tidak hanya yang meninggal dunia, penyelenggaran Pemilu yang jatuh sakit juga bertambah. Dari yang sebelumnya disebutkan sebanyak 23 orang, data terbaru menyebutkan bahwa yang sakit jumlahnya mencapai 30 orang.

“Sebagian besar mereka kelelahan saat menjalankan tugasnya sebagai penyelenggara Pemilu, mulai dari proses pemungutan suara, penghitungan hingga pengembalian logistik dari KPPS ke kecamatan,” kata komisioner KPU Sumenep, Abdul Hadi.

Ia menambahkan, untuk penyelenggara pemilu yang meninggal maupun sakit akibat menjalankan tugas, akan mendapatkan santunan dari Pemerintah.

“Untuk yang meninggal akan menerima santunan Rp 36 juta. Sedangkan yang sakit mendapatkan bantuan pengobatan sedikitnya Rp 8,5 juta,” terangnya. [tem/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar