Politik Pemerintahan

Pengurusan Paspor Menurun, Imigrasi Tanjung Perak Surabaya Jemput Bola ke Gresik

Petugas Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak Surabaya saat melayani dosen UMG yang sedang membuat paspor

Gresik (beritajatim.com) – Imbas adanya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama 5 bulan, membuat pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak Surabaya menurun drastis.

Berdasarkan data kantor setempat, sebelum ada pandemi Covid-19 setiap hari ada permohonan paspor baru. Namun, pasca ada virus mematikan itu pengajuan paspor hanya 40 orang.

Menyikapi hal itu, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak Surabaya melakukan jemput bola dengan menyasar lembaga pendidikan seperti di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG).

Di lembaga perguruan tinggi tersebut, petugas imigrasi membuka layanan pengurusan paspor baru. Total ada 48 orang terdiri dari para dosen serta rektor mengajukan pembuatan paspor.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Tanjung Perak Surabaya, Sugiono menuturkan, ini pertama kalinya petugas datang ke Gresik jemput bola bagi warga yang ingin membuat paspor.

“Program jemput bola ini merupakan salah satu trobosan yang ditawarkan kepada masyarakat selama pandemi Covid-19. Sebab, selama pandemi pemohon paspor baru turun drastis hingga 90 persen. Salah satu faktornya, penerbangan internasional banyak yang belum buka,” tuturnya, Selasa (28/07/2020).

Ia menambahkan, ada empat sasaran yang dibidik terkait dengan program jemput bola. Pertama, institusi perkantoran, pendidikan, komunitas atau organisasi, kelompok masyarakt atau perumahan. Hanya saja ada minimal batas pemohon paspor.

“Minimal 50 pemohon mengajukan nanti kita jadwalkan datang ke lokasi, hari ini 48 tidak apa-apa. Biayanya pun tetap Rp 350 ribu,” imbuhnya.

Syarat lainnya lanjut Sugiono, adalah para pemohon itu diminta menyiapkan satu ruangan berisi meja, kursi dan jaringan WiFi sebagai server.

“Kami beri contah misalnya ada warga perumahan. Pemohonnya berjumlah 50 orang cukup menyiapkan satu balai RT atau RW sudah cukup,” ujarnya.

Program jemput bola ini kata dia, juga untuk menghindari kerumunan. Para pemohon paspor hanya membawa KTP, Kartu Keluarga (KK), bisa membawa salah satu dari akta lahir, ijazah atau akta perkawinan serta paspor RI bagi yang pernah memiliki.

Sementara, Rektor UMG, Prof. Dr. Ir. Setyo Budi M.S menyambut positif adanya layanan pengurusan paspor jemput bola seperti ini. Warga tidak perlu lagi ke luar kota, tidak perlu antri apalagi sampai melalui jalur tidak resmi lewat calo untuk mendapatkan paspor.

“Ini namanya pro aktif jemput bola untuk memberikan kemudahan terhadap pelayanan masyarakat,” paparnya.

Kedepa lanjut Setyo Budi, program ini jangan hanya ada pandemi saja. Pasalnya, di beberapa lokasi ada sentra TKI maupun TKW yang biasanya lalu lalang ke luar negeri.

“Bisa saja kantor imigrasi datang ke lokasi tersebut sebagai pengembangan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya. [dny/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar