Politik Pemerintahan

Pengamat UIN: Bersatunya PKB dan NU Ancam Eksistensi HM Sanusi

Malang (beritajatim.com) – Bergabungnya NU dan PKB Kabupaten Malang akan berdampak signifikan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah ditempat ini. Meski sebenarnya, baik NU dan PKB hanya beda platform saja.

Namun secara sosio kultural, orang PKB bisa dibilang adalah orang NU. “Secara sosio kultural, orang pasti sudah tahu jika PKB sudah pasti orang NU. Dan masyarakat diluar menganggap bahwa PKB ini adalah partainya orang NU,” demikian ditegaskan Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogjakarta, Mahatva Yoga Adipradana pada beritajatim.com, Jumat (6/3/2020) sore.

Menurut Yoga sapaan akrab yang juga Dosen Sosiologi Agama tersebut, pasca reformasi 1998 dan berdirinya PKB sebagai salah satu saluran politik warga Nahdliyin (NU), para pendiri partai tersebut dan para kiai utamanya secara hati-hati memisahkan NU dari jalan kepartaian PKB.

Sekalipun PKB salah satunya, didirikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang saat itu menjabat sebagai  yang Ketua Umum Tanfidziyah (Dewan Pelaksana) NU.

Nah, melihat sejarahnya, lanjut Yoga, bahwa partai PKB tidak akan pernah lepas dari NU sendiri. “Dengan demikian, merangkul NU bagi PKB adalah sebuah keharusan jika tidak ingin kehilangan dukungan politik dari warga nahdliyin yang secara elektoral sangat kuat,” tegas Yoga.

Disinggung sosok petahana yang juga Bupati Malang HM Sanusi adalah orang NU? Yoga berpandangan tidak menjadi permasalahan apabila petahana merupakan orang NU.  Namun demikian, secara kultur NU sangat dekat dengan PKB.

“Meskipun petahana orang NU, secara politik sekarang orang sudah tahu kalau petahana adalah kader PDIP. Apalagi saat ini yang menarik dengan adanya Banser yang secara struktural dalam garis NU, mau tidak mau harus ditegaskan kepada para pengurus dan anggota NU beserta afiliasi lainnya. Jangan sampai identitas keagamaan dijdikan komoditas politik yang membuat kegaduhan. Alangkah bijak apabila berbeda pilihan, anggota Banser tersebut menaruh bajunya dalam rangka mendukung bukan menegaskan langkah politik yang demikian,” ujar Yoga, Sarjana Ilmu Politik jebolan Universitas Brawijaya Malang ini.

Yoga menambahkan, persoalan Banser, perilaku ini menunjukkan bahwa petahana ketakutan dalam menjaga stabilitas warga nahdliyin yang telah mendukungnya dikarenakan dahulunya petahana merupakan kader PKB.

“Jangan sampai identitas agama dijadikan komoditas politik oleh para politisi dalam rangka kepentingan individu. Karena dengan demikian masyarakat bisa menilai bagaimana sikap yang dibangun oleh calon Bupati yang merupakan petahana dalam strategi politiknya,” terang Yoga.

Masih kata Yoga, saat ini yang menjadi tantangan terbesar NU sebagai organisasi Islam besar adalah ancaman dari budaya religius yang semakin individual dan didorong oleh pasar. Serta, dari lingkungan pendidikan yang dikontrol oleh negara.

“Semua itu dalam ranah politik praktis menegaskan sebuah kekuasaan,” Yoga mengakhiri. (yog/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar