Politik Pemerintahan

Pengamat: Pemimpin Daerah Tak Perlu Sangat Cerdas Asal Bisa Berkomunikasi

Pengamat politik dari Universitas Jember, Agus Tri Hartono

Jember (beritajatim.com) – Pemimpin daerah yang terpilih saat pemilihan namun gagal dalam memerintah menunjukkan kegagalan membangun budaya saling percaya dan kerjasama.

“Pemimpin tidak harus cerdas-cerdas amat. Tapi dia bisa dipercaya publik dan dia bisa menggerakkan. Ketika tidak bisa, di situ masalah mulai muncul,” kata pengamat politik dari Universitas Jember, Agus Tri Hartono, dalam diskusi mengenai pemilihan kepala daerah di Gedung Sutardjo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (7/3/2020).

“Ketika hubungannya dengan legislatif bermasalah, itu juga masalah. Kenapa, karena sebetulnya harus ada proses kerjasama. Di situ harus ada proses checks and balances, tapi tidak harus saling mengunci. Harus terbuka, harus diskusi, dan menyampaikan apa yang jadi masalah bersama,” kata Agus.

“Pemimpin dengan manajer itu dua hal berbeda. Pemimpin harus menginspirasi, harus bisa menggerakkan. Kalau manajer membuat sesuatu selesai, tapi pemimpin lebih dari itu,” kata Agus.

Jika kemudian merasa tidak cocok, publik bisa menghukum calon kepala daerah tersebut seperti dalam pilkada Makassar. “Saat itu publik memilih kotak kosong daripada satunya. Jadi publik punya kesempatan memberikan pelajaran kepada orang yang memang bermasalah,” kata Agus. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar