Politik Pemerintahan

Pilwali Surabaya 2020

Pengamat: Jika Whisnu Berpasangan dengan Eri, Tak Untungkan Risma

Moch Mubarok Muharam, pengamat politik dari Lembaga Transformasi (Eltram)

Surabaya (beritajatim.com) – Isu telah turunnya rekomendasi DPP PDI Perjuangan kepada Wawali Surabaya Whisnu Sakti Buana (WS) memantik banyak reaksi. DPD PDIP Jatim dan DPC PDIP Kota Surabaya sendiri telah membantah bahwa rekom tersebut hingga saat ini belum turun.

Moch Mubarok Muharam, pengamat politik dari Lembaga Transformasi (Eltram), Minggu (5/7/2020) menilai, adanya ‘perang dingin’ antara kubu WS dan Wali Kota Tri Rismaharini. “Ini sudah terjadi bertahun-tahun. Di mana Bu Risma sebagai Wali Kota terkesan tidak memberi peluang Whisnu Sakti berperan sebagai Wakil Wali Kota. Walaupun konflik tidak muncul di permukaan, tapi kan semua pihak tahu kalau ada ‘perang dingin’,” kata Mubarok.

Banyak yang memperkirakan prestasi Tri Rismaharini seharusnya mampu mengawal rekomendasi ke Eri Cahyadi. Apalagi, Eri merupakan ‘anak emas’ Wali Kota Risma. Sedangkan Armuji yang sebelumnya gembar-gembor maju sebagai bakal calon wakil wali kota berpasangan dengan cawali Eri Cahyadi menyatakan mengundurkan diri.

Bagaimanakah peluang pasangan Whisnu-Eri di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya 9 Desember 2020? “Pasangan ini akan lemah, karena pada dasarnya kubu Risma dan Whisnu tidak ketemu,” tegasnya.

Mubarok menilai, seandainya pasangan Whisnu dan Eri Cahyadi ini benar-benar terjadi, maka hal itu hanya untuk membawa kepentingan sesaat. Siapapun yang disodorkan Tri Rismaharini, tidak akan mewarisi kekuatan dirinya dalam mengendalikan Pemerintahan Kota Surabaya.

“Itu seandainya dipaksakan, hanya untuk kepentingan sesaat agar kedua kubu terakomodir dalam pilwali. Kubunya Whisnu menjadi calon wali kota dan kubunya Risma yaitu Eri Cahyadi terakomodir menjadi calon wakil wali kota,” tuturnya.

Aktivis ’98 lulusan dari FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menjelaskan bahwa Whisnu dan Eri dipaksakan berpasangan, karena PDIP tidak ingin kehilangan momentum di Pilwali Surabaya. “Itu sebenarnya keterpaksaan, karena kedua kubu tidak ingin kehilangan. Itu yang pertama,” katanya.

Seperti diketahui, kubu di kandang banteng terpecah dalam beberapa kekuatan. Faksi-faksi ini, memiliki dukungan yang kuat di internal. Seperti dukungan faksi Bambang DH (mantan Wali Kota Surabaya), faksi Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya), dan faksi Whisnu Sakti Buana (mantan Ketua DPC PDI Perjuangan yang juga Wakil Wali Kota Surabaya).

“Kedua, faksi-faksi (faksinya Risma dan faksinya Whisnu) selama beberapa tahun itu sulit dapat dipersatukan dalam waktu sekejap. Itu secara teori,” tambahnya.

Mubarok yang juga Kepala Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Darul Ulmum (Undar) Jombang memperkirakan, ‘kawin paksa’ antara Whisnu dengan Eri ini akan sangat berat. “Kawin paksa ini berat. Karena untuk membangun image sebelumnya tidak ada luka itu sangat berat. Walaupun tidak pernah bekerjasama, paling tidak, tidak ada luka antar dua kubu berkoalisi itu kan,” terangnya.

Ia memperkirakan, sebenarnya kans Eri maupun Whisnu adalah sama-sama berpeluang menjadi calon wali kota. Tapi karena waktu pilwali yang terus berjalan dan sangat mepet waktu pendaftaran, PDIP tidak bisa mencari irisan lainnya.

“Waktu yang semakin mepet, apalagi kansnya hampir sama Whisnu dan Eri Cahyadi untuk menjadi calon wali kota. Tidak bisa mencari irisan lain ketika dua itu bersatu,” katanya.

Pertarungan di Pilwali Surabaya 2020 ini juga berat, karena Wishnu maupun Eri Cahyadi basisnya sama yakni dari kalangan abangan atau PDIP. “Berat juga, basisnya sama tidak memperluas basis kalau kedua kubu bersatu,” ujarnya.

Apabila pasangan Whisnu-Eri ini mengalami kemenangan atau kekalahan di Pilwali Surabaya 2020, maka Eri tidak akan bisa membawa pesan ‘ibunya’ atau Wali Kota Risma. “Eri kan wakilnya dan tidak bisa mengambil policy kebijakan. Semua kebijakan dari Whisnu. Sebenarnya mereka berpasangan ini karena kompromi, bukan sehati,” pungkas Mubarok. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar