Politik Pemerintahan

Pemkot Malang Sesalkan Pengerusakan Truk Polisi di Hari Perempuan Internasional

Wali Kota Malang, Sutiaji. (Humas Pemkot Malang)

Malang(beritajatim.com) – Pemerintah Kota Malang mengecam demo anarkis pada peringatan Hari Perempuan Internasional di kawasan Stadion Gajayana, Kota Malang. Demo anarkis ini berujung pada pengerusakan truk polisi.

Truk polisi itu disiapkan untuk mengangkut para demonstran. Polisi dan Satgas Covid-19 sebelumnya mengimbau demonstran untuk naik ke truk dan diantar ke tempat tinggal masing-masing. Polisi memberi waktu 15 menit untuk orasi damai dan naik ke atas truk.

Demonstran menolak, terjadi negosiasi alot. Hingga terjadi friksi antara demonstran dengan polisi di lokasi. Polisi beralasan selain melanggar protokol kesehatan, demo Hari Perempuan Internasional telah disusupi karena membentangkan poster menolak otonomi khusus Papua dan menyuarakan kemerdekaan Papua Barat.

Polisi akhirnya memaksa demonstran untuk masuk ke dalam truk. Demonstran yang sedari awal menolak dipulangkan mencoba melawan. Bahkan seorang oknum demonstran menendang kaca depan bagian sopir truk hingga pecah. Serpihan kaca mengenai mata, anggota polisi yang menjadi sopir pun terpaksa harus mendapat perawatan medis.

“Saya menyayangkan dan menyesalkan di kondisi pandemi ada demo anarkis. Ini sangat kami sayangkan. Menyuarakan pendapat, iya boleh silahkan karena bagian dari demokrasi tapi negara punya aturan,” ujar Wali Kota Malang, Sutiaji, Selasa, (9/3/2021).

Sutiaji mengatakan, seharusnya hari perempuan dilakukan dengan damai. Sebab, hari perempuan menjadi momentum memperjuangkan hak-hak perempuan. Apalagi perempuan merupakan simbol kelembutan.

“Karena kemarin kan hari perempuan internasional masalahnya kan mengangakat persoalan perempuan bagaimana menghargai perempuan dan hak-haknya. Apalagi perempuan adalah simbol dari kelembutan, kok ada anarkis. Dan masalah yang diangkat kan bukan bagaimana mengangkat perempuan. Sekarang kan banyak pelecehan perempuan harusnya itu yang diangkat. Apalagi sesungguhnya kita melawan anarkis, radikalis,” papar Sutiaji.

Sutiaji mengungkapkan, akibat demo anarkis itu. Pemkot Malang mendapat saran dari masyarakat untuk melakukan deklarasi damai. Apalagi saat ini masyarakat sedang fokus dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro agar menjadi zona hijau atau wilayah bebas Covid-19.

“Ini sangat kami sayangkan, sampai ada permintaan dari masyarakat untuk deklarasi damai semua komunitas pada Rabu, 10 Maret 2021 besok. Insya Allah besok kita deklarasi Malang kondusif. Karena kita capek mengurus PPKM kok malah ada demo anarkis. Ini permintaan masyarakat,” tandas Sutiaji. (luc/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar