Politik Pemerintahan

Pemkot Malang Butuh Pipa Baru untuk Atasi Krisis Air

Droping air di Perumahan Bulan Terang Utama, Kedungkandang, Kota Malang.

Malang (beritajatim.com) – Wali Kota Malang, Sutiaji meminta bantuan ke KemenPUPR atas persoalan pecahnya pipa transmisi berdiameter 500 milimeter milik PDAM Kota Malang di Tumpang. Pihaknya pun telah melakukan koordinasi dengan Kepala Pusat Air Tanah dan Air Baku, Dirjen sumber Daya Air Kementerian PUPR di Kantor PDAM Kota Malang, Rabu, 15 Januari 2020.

“Jumat mendatang kita akan lakukan rakor lagi, kami laporkan selama Oktober hingga Januari ini. Jalur yang rusak ini berada di titik ekstrem, ada 3.700 meter hampir 4 kilometer persegi jalur ekstrem ini. Nanti akan dipasang lagi pipa baru, diatur dengan yang naik agar tidak terlalu ekstrem,” papar Sutiaji.

Dampak dari pecahnya pipa air ini, membuat 26 ribu lebih warga Kota Malang krisis air bersih. Mereka terpaksa mengandalkan droping air bersih selama enam hari terakhir. Namun, Sutiaji mengatakan data terbaru 16 ribu warga telah mendapatkan aliran air. Tinggal 10 ribu warga saja yang belum mendapat aliran air.

“Sudah tidak 26 ribu warga, sekarang 16 ribu dengan skema membagi debit airnya sementara tinggal 10 ribu pelanggan yang belum teraliri. Solusinya maka kami akan manfaatkan sumur bor yang kurang pompa akan kita tambah dan airnya kita ambil untuk mengaliri 10 ribu warga ini,” kata Sutiaji.

Sutiaji mengatakan, diperkirakan pemasangan pipa baru dan optimalisasi sumber air dibutuhkan waktu hampir satu bulan. Selama sebulan itulah, PDAM Kota Malang akan melakukan berbagai upaya agar seluruh warga terdampak mendapatkan aliran air. Salah satunya dengan mendistribusikan air menggunakan mobil tangki.

“Saya minta dalam waktu dekat minimal satu bulan kita buat skenario dengan memanfaatkan sumber air yang terdeteksi. Sementara bantuan dari pusat dengan anggaran Rp35 miliar untuk mengganti pipa yang saat ini sudah terus menerus rusak,” tandasnya. [luc/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar