Politik Pemerintahan

Menjelang Era New Normal

Pemkab Pamekasan Godok Skenario Pembelajaran

Pamekasan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan mulai membahas skenario pelaksanaan proses belajar mengajar di berbagai lingkungan lembaga pendidikan, khususnya pasca adanya wacana era normal baru alias new normal oleh pemerintah pusat.

Sebab selama pandemi virus corona alias Covid-19 yang menyebar di seluruh penjuru negeri, proses belajar mengajar dilakukan dengan sistem daring alias online melalui slogan belajar atau bekerja di rumah alias workhome. Sekalipun kondisi tersebut tidak berlaku merata di semua jenjang pendidikan, khususnya di lembaga pendidikan pesantren.

Hanya saja rencana new normal termasuk masa para santri harus kembali ke pesantren, pemerintah harus menyiapkan langkah konkrit untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk khususnya sebagai upaya pencegahan penyebaran wabah Covid-19.

Terlebih bagi para santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka nantinya akan berada dalam satu kompleks yang sangat memungkinkan adanya penyebaran wabah. “Jadi hal ini penting, karena tidak menutup kemungkinan para santri sudah tentu berbaur dengan masyarakat umum. Berbeda saat mereka sedang berada di pondok pesantren,” kata Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, Senin (1/6/2020).

Dari itu pihaknya tengah mendata jumlah santri maupun pelajar yang ada di daerah yang dipimpinnya, sekaligus sebagai upaya untuk melakukan pemeriksaan cepat dengan menggunakan alat tes diagnoatik guna menditeksi penyebaran wabah Covid-19. “Saat ini kita masih menghitung berapa kekuatan anggaran yang kita miliki  untuk melakukan rapid test bagi para santri maupun pelajar,” imbuhnya.

“Perkiraan sementara ada sekitar 120 ribu pelajar di Pamekasan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat sekolah menengah pertama (SMP). Katakan lah 120 ribu, maka total anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 60 miliar. Kita akan cek, apakah pos di masing-masing dinas memungkinkan untuk itu,” jelasnya.

Namun jika  pemeriksaan pada seluruh pelajar tidak memungkinkan dilakukan, maka pihaknya hanya akan melakukan pemeriksaan pada santri dan pelajar yang berasal dari zona merah penyebaran Covid-19. “Saat ini kita juga tengah membahas pelaksanaan proses pembelajaran pada masa new normal, termasuk pembatasan jumlah siswa dalam satu kelas saat proses belajar lewat tatap muka,” imbuhnya.

Pelajar telah kembali ke sekolah di Vietnam.[Foto: Getty Images/BBC]

“Misalkan dalam keadaan biasa satu kelas diisi 30 orang, pada era new normal bisa diisi 15 orang. Bisa juga dilakukan dengan cara penerapan belajar pagi dan sore, separuh siswa masuk pagi dan sisanya pada sore hari. Namun saat ini kami perlu membahas skema ini sedetail mungkin bersama pimpinan inatansi terkait,” pungkasnya.

Memang selama masa pandemi ini,  proses pembelajaran di sejumlah lembaga pendidikan di Pamekasan menerapkan sistem daring sekalipun tidak berlangsung maksimal karena keterbatasan berbagai sarana penunjang. Hal tersebut berbeda dengan lembaga pendidikan pesantren yang tetap menerapkan pola seperti biasa. [pin]





Apa Reaksi Anda?

Komentar