Politik Pemerintahan

Pemkab Bojonegoro: Investasi Migas Besar, dampak ke Masyarakat Masih Kecil

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bojonegoro, Gunardi

Bojonegoro (beritajatim.com) – Nilai investasi yang masuk ke Kabupaten Bojonegoro cukup besar. Sebagian besar investasi di bidang minyak dan gas bumi (Migas). Salah satunya, investasi di proyek unitisasi Jambaran Tiung Biru (JTB) yang dioperatori Pertamina Energi dan Produksi Cepu (PEPC).

Pada 2019 investasi dari PEPC yang masuk ke Bojonegoro sebesar USD 1,5 miliar. Dengan rincian untuk pembangunan Gas Processing Facility (GPF) USD 983,8 juta, pemboran enam sumur USD 166,2 juta, owner cost USD 355,9 juta dan studi (AMDAL, feed, dll) USD 90,8 juta.

Plt Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bojonegoro, Gunardi mengatakan investasi yang masuk sejauh ini paling banyak masih dari sektor migas. Selain itu dibidang perdagangan, PT Shofung sebesar Rp 94 miliar dan Aice Rp 61 miliar.

“Peningkatan investasi ikutan dari proyek migas di Bojonegoro pertumbuhannya masih kecil. Pada 2019 ada peningkatan investasi sebesar delapan persen,” ujar Gunardi, Rabu (4/12/2019).

Gunardi mengatakan, investasi di luar bidang migas, sedikitnya dari 17 bidang usaha, diantaranya bidang pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, restoran/ rumah makan/ cafe, gedung perumahan/ rumah toko, gedung perkantoran/ supermarket dan supermall, konstruksi, transportasi, kesehatan dan jasa hiburan di 2019 sebesar Rp 2 triliun.

“Investasi besar di bidang migas ini dampak secara langsung ke masyarakat masih kecil. Rata-rata hanya yang berada di sekitar wilayah pengeboran migas,” ungkapnya.

Menurutnya, agar menumbuhkan investasi ada beberapa indikator yang bisa mempengaruhi investor masuk harus dibenahi. Salah satu yang masih dibenahi diantaranya, akses jalan, akses perizinan yang lebih mudah, kondusifitas politik, dan sosial masyarakat yang terbuka.

Sementara diketahui, dalam website pertamina.com disebutkan, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dalam melakukan investasi di Bojonegoro berhasil melakukan efisiensi investasi (capital expenditure/Capex) sebesar USD 653 juta dolar untuk proyek pengembangan lapangan gas unitisasi Jambaran – Tiung Biru (JTB).

Hal tersebut dinyatakan Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan dalam jumpa pers usai acara pemancangan perdana EPC Gas Processing Facility (GPF) JTB di Bojonegoro, pada Jumat (4/1/2019).

“Penurunan nilai investasi dari USD 2,2 miliar jadi USD 1,547 miliar menjadi bukti bahwa kami mampu bekerja efisien dalam mengembangkan salah satu Proyek Strategis Nasional ini,” ujarnya. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar