Politik Pemerintahan

Pemindahan Puskesmas Sekapuk Gresik Berbuntut Panjang

Gresik (beritajatim.com)- Rencana pemindahan Puskesmas Sekapuk, yang akan dilakukan oleh Pemkab ke Desa Bolo malah berbuntut panjang.

Pasalnya, warga Sekapuk menolak keras pemindahan tersebut. Bahkan, terkait dengan itu warga membuat surat penolakan lalu dikirim ke bupati.

Alasan warga Sekapuk menolak. Selain sudah berusia 40 tahun. Fasilitas kesehatan di puskesmas tersebut sudah memadai buat kepentingan masyarakat. Ditambah Sekapuk merupakan wilayah tambang batu kapur. Sehingga, resiko penyakit pernafasan cukup tinggi.

Menanggapi hal itu, Kepala Puskesmas Sekapuk dr Setyo menyatakan
Masalah pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pneumoni dan yang lain tergolong tinggi.

“Pasien dengan masalah pernapasan cukup banyak. Angkanya pasti ada di 10 besar penyakit terbanyak,” tuturnya, Kamis (25/04/2019).

Kepala Desa Sekapuk Abdul Halim mengaku akan mengadakan rapat dadakan dengan BPD. Pihaknya berencana berkirim surat kepada bupati. Malahan, menurut Halim, warganya sangat menolak jika puskesmas terakreditasi madya itu benar dipindah. Mereka siap turun ke jalan.

“Kami berharap puskesmas tetap berada di Sekapuk karena sangat dibutuhkan. Disini wilayah tambang yang tingkat resiko terkena penyakitnya lebih tinggi. Ini harus dikaji,” ungkapnya.

Abdul Halim menambahkan, jika puskesmas Sekapuk itu dipindah. Masyarakat desa Sekapuk bakal menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer. Yakni ke puskesmas baru di Desa Bolo.

“Atas nama warga kami mempertanyakan, apakah benar sudah dilakukan kajian. Apakah pembangunan hanya berdasar masalah tanah. Karena itu, pihaknya meminta pihak terkait untuk mempertimbangkan lagi,” paparnya.

Secara terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Gresik Khoirul Huda mengaku belum mendapat informasi soal pemindahan puskesmas tersebut. Sebab, saat penyusunan anggaran pembangunan puskesmas Sekapuk berada di lokasi yang lama. Tidak dipindah.

“Komisi IV sangat menyayangkan kalau Puskesmas Sekapuk dipindah tanpa dasar yang jelas. Seharusnya, perlu adanya pengkajian tentang manfaat lebih dulu dan itu yang jadi prioritas,” pungkasnya. (dny/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar