Politik Pemerintahan

Pemerintah Disiplin, Warga Abai, Covid 19 Meningkat

Banyuwangi (beritajatim.com) – Sepekan terakhir warga Banyuwangi disuguhkan dengan informasi yang mencengangkan. Betapa tidak, angka orang terkonfirmasi positif Covid 19 tiba-tiba meningkat pesat.

Tak disangka, virus corona yang semula melandai justru kembali menjadi momok saat semua lengah. Sejumlah warga khawatir karena di sekitarnya menjadi wilayah yang dinilai tak aman lagi.

Bermula dari hajatan di Desa Ringinpitu, Kecamatan Tegaldlimo, Covid 19 menyebar begitu cepat. Berawal dari 5 orang, hasil tracing melonjak menjadi 43 warga terkonfirmasi positif Covid 19. Bahkan, kawasan ini telah ditetap menjadi klaster baru di Banyuwangi.

Warga yang positif dengan gejala ringan diminta isolasi mandiri.  Pasien dengan gejala berat dirawat di RSUD Blambangan dan RS rujukan. Tapi banyak warga yang positif masuk kategori orang tanpa gejala (OTG).

Dari lokasi ini Covid 19 berkembang ke daerah lain. Klaster baru muncul di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo. Ada belasan warga terpapar Covid 19 setelah ikut datang dalam undangan sebuah hajatan.

Selanjutnya, ada klaster pondok pesantren di Kecamatan Blimbingsari. Para santri terpapar Covid 19 setelah dilakukan pemeriksaan dan tracing oleh tenaga medis. Belum kelar kasus lama, muncul klaster baru di kecamatan yang sama.

Sejumlah orang terpapar Covid 19 sepulang dari ziarah Walisongo. Mereka kemudian diminta isolasi mandiri. Lalu, ada lagi klaster baru yang melibatkan satu keluarga. Kasus ini muncul di Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi Kota.

Berselang waktu yang beriringan, paparan Covid 19 menyerang sejumlah tenaga kesehatan di Kecamatan Tegaldlimo. Ada 9 tenaga kesehatan yang kini mesti menjalani isolasi mandiri. “Awalnya satu di Puskesmas Tegaldlimo, kemudian kasus baru ditemukan di Puskesmas Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo ada 8 nakes terpapar. Ini menjadi klaster baru di sana,”

“Meski demikian, kepada yang bersangkutan sudah kita minta untuk isolasi mandiri. Bagi yang negatif, pelayanan tetap buka,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr. Widji Lestariono, Jumat (25/6/2021).

Tidak hanya itu, tenaga kesehatan lainnya juga ikut terpapar di wilayah lain. Kali ini menjangkit di Puskesmas Licin. Covid 19 menerpa pada tubuh seorang perempuan yang bekerja di tempat itu. Bahkan, saat ini telah meninggal dunia.

“Sempat dilakukan perawatan intensif di RSUD Blambangan, karena yang bersangkutan mengalami penuruan saturasi oksigen. Almarhum sudah dikebumikan, (kemarin). Pasien ini meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil. Sehingga pemerintah nanti akan memperhatikan kesejahteraan mereka,” katanya.

Dari semua kasus yang ada, Banyuwangi mencatat kasus positif peningkatan yang cukup signifikan. Dalam sebulan terakhir total 140 kasus baru. Dengan jumlah kematian delapan orang.

Menanggapi kasus yang begitu masif, Pemda Banyuwangi mengambil langkah cepat. Melalui Satgas Covid 19 kabupaten, mereka melakukan rapat koordinasi untuk mengambil tindakan.

Hasilnya, keluar sebuah surat edaran (SE) yang ditandatangani oleh Ketua Satgas dan sejumlah jajaran. Poinnya ada 12 yang intinya melakukan pembatasan terhadap sejumlah aktivitas masyarakat.

SE mengatur antara lain jam operasional pusat-pusat ekonomi, seperti destinasi wisata, restoran dan warung makan, pusat perbelanjaan, dan toko modern. Juga mengatur pembatasan dan pengendalian di tempat usaha, perkantoran, pendidikan, tempat ibadah, juga pengaturan penyelenggaraan kegiatan keagamaan, hajatan, seni, dan pertemuan.

Sekda Banyuwangi Mujiono secara langsung membacakan 12 poin kebijakan yang ada di dalam SE tersebut. Di antaranya, seluruh tempat usaha, destinasi wisata, perkantoran, lembaga pendidikan, tempat ibadah, dan sarana publik lainnya wajib menerapkan protokol kesehatan.

“Pengelola atau penyelenggara tempat ibadah dalam melaksanakan kegiatan ibadah mengatur pembatasan peserta atau jamaah sebesar 50%, dari kapasitas dengan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat. Untuk RT dengan zona oranye dan zona merah dibatasi secara ketat dan lebih mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di rumah,” kata Mujiono.

“Per 23 Juni, ada 10.354 RT zona hijau, 250 RT zona kuning, 3 RT zona orange, dan 1 RT zona merah. Artinya 4 RT dioptimalkan ibadah di rumah,” lanjutnya.

Isi surat berikutnya, penangggung jawab atau pengelola tempat kerja/perkantoran dapat menerapkan Work From Home (WFH) 50% dan Work From Office (WFO) 50%;

“Untuk destinasi wisata beroperasi pukul  09.00 – 15.00 WIB. Kecuali Kawah Ijen mulai pukul 03.00 hingga 08.00 WIB dan Pantai Marina Boom pukul 09.00 – 20.00 WIB dengan pembatasan jumlah pengunjung maksimal 50% dari kapasitas,” jelas Mujiono.

Adapun cafe, restoran, rumah makan, warung, lesehan, pasar wisata kuliner dan tempat-tempat kuliner lainnya beroperasi pukul 07.00 – 20.00 WIB dengan pembatasan jumlah pengunjung maksimal 25% dari kapasitas.

“Karaoke dan tempat hiburan tidak diizinkan beroperasi. Kemudian kegiatan usaha di Taman Blambangan, Sri Tanjung, dan ruang terbuka hijau pada semua kecamatan beroperasi pukul 09.00 – 20.00 WIB. Untuk kegiatan Car Free Day,  senam, dan olahraga bersama lainnya serta wahana permainan di ruang terbuka hijau dan ruang publik lainnya tidak diizinkan,” kata Mujiono.

Mujiono menambahkan, untuk kegiatan keagamaan, hajatan, seni budaya, dan pertemuan yang berpotensi menimbulkan kerumunan pada RT dengan zona hijau dan zona kuning wajib menerapkan ketentuan kapasitas peserta maksimal 25%, sajian konsumsi dalam bentuk kemasan untuk dibawa pulang. Durasi acara maksimal 4 jam, dan penggunaan sound system skala kecil.

“Sementara pada RT dengan zona oranye dan zona merah tidak diizinkan melaksanakan kegiatan tersebut diatas. Data per 23 Juni, ada 4 RT yang dilarang menggelar hajatan, pertemuan dengan potensi kerumunan, kegiatan keagamaan, dan seni budaya,” tegas Mujiono.

Kemudian Pusat Perbelanjaan (hypermarket, supermarket, swalayan, departement store) dan toko modern beroperasi pukul 10.00 – 20.00 WIB, dan pengelola wajib menyediakan pos pengawasan protokol kesehatan, sedangkan toko tradisional dapat beroperasi pukul 08.00-20.00 WIB.

Lalu Hotel, Pondok Wisata, Homestay, Resort, Guest house, dan jenis penginapan lainnya mewajibkan pengunjung melampirkan hasil negatif pemeriksaan Genose/Rapid Antigen/SWAB PCR yang masih berlaku.

Mujiono menambahkan, posko Tingkat Desa dan Kelurahan/PPKM Mikro diminta menyediakan sarana/tempat isolasi terpusat bagi warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala dengan pengawasan ketat.

“Apabila kapasitas tempat isolasi tidak mencukupi, warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala wajib melaksanakan isolasi pada tempat isolasi terpusat yang  disediakan oleh Pemkab Banyuwangi,” jelasnya.

Dandim Banyuwangi Letkol Yuli Eko menambahkan, desa/kelurahan yang melaksanakan PPKM Mikro diharapkan melaksanakan secara optimal dan sesuai ketentuan yang berlaku. “Mengingat penggunaan anggaran PPKM Mikro diaudit oleh Inspektorat  dan diawasi oleh aparat penegak hukum,” kata Eko.

Langkah lain dari pemerintah daerah yaitu meningkatkan kapasitas rumah sakit rujukan. Seluruh rumah sakit yang ditunjuk mendapat perhatian, khususnya bagi yang merawat pasien Covid 19.

Seluruh rumah sakit juga ditambah kapasitas Bed Occupancy Rate (BOR) bahkan ruang isolasi. Termasuk menyiapkan SDM medis sebagai garda terdepan penanganan Covid 19. Apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah ini semata untuk kepentingan bersama. Misinya menyelamatkan warga dari bahaya Covid 19. [rin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar