Politik Pemerintahan

Bangunan Islam Bersejarah di Ponorogo

Pembangunan Masjid NU Ponorogo Ditangani Langsung Oleh Hadratussyeih Hasyim Asy’ari

Ponorogo (beritajatim.com) – Pujian-pujian setelah adzan dikumandangkan muazin dengan merdu di Masjid Nahdlatul Ulama (NU) Ponorogo siang itu. Satu per satu orang mulai berdatangan untuk menunaikan ibadah salat dhuhur di masjid yang dulu berdirinya berkaitan erat dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo.

“Dibangunnya Masjid NU ini seiring dengan berdirinya PCNU Ponorogo yakni tahun 1930,” kata Ketua PCNU Ponorogo Fatchul Aziz, saat ditemui beritajatim.com di serambi masjid, Kamis (22/4/2021).

Masjid NU berada di Jalan Sultan Agung Kelurahan Bangunsari Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. Pembangunannya dulu ada campur tangan dari pendiri NU Hadratussyeih Hasyim Asy’ari. Beliaulah yang mengukur dan menentukan arah kiblatnya. Pembangunan masjid inj memerlukan waktu satu tahun, sehingga diresmikan pada tahun 1931, tepatnya pada tanggal 12 bulan April. Dalam peresmiannya pun juga dihadiri oleh pendiri NU lainnya, yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri. “Pembangunannya dulu dihandle langsung Mbah Hasyim Asy’ari, beliau yang mengukur arah kiblatnya,” katanya.

Masjid yang bisa menampung kurang lebih 1.000 jemaah ini, sekarang bangunannya nampak modern, setelah dibongkar total pada tahun 2014. Butuh waktu 4 tahun, untuk membangun kembali icon masjid jami’nya NU Ponorogo itu. Setelah selesai pembangunan pada tahun 2018, masjid diresmikan oleh Mustasyar PBNU KH. Ahmad Mustofa Bisri atau akrap dipanggil Gus Mus. Aziz menceritakan sebelumnya masjid sudah pernah direhab. Yakni pada tahun 1950an dilakukan perbaikan dan pada tahun 1977 dilakukan perluasan masjid. “Masjid dibongkar total pada tahun 2014. Selesai 4 tahun kemudian dan diresmikan oleh Gus Mus,” katanya.

Sejak dulu Masjid NU ini satu paket dengan komplek pendidikan Ma’arif NU. Di sekitar masjid saat ini berdiri SD Ma’arif, MTs Putri dan MA putri. Dulunya, sebelum masjid berdiri, lembaga pendidikan Ma’arif ini terletak di jalan Ahmad Dahlan, yang saat ini dipakai menjadi pusat perbelanjaan. Setelah berdiri, lembaga pendidikan tersebut dipindah disekitar masjid hingga sekarang. “Jadi selain menjadi tempat peribadatan, Masjid NU juga menjadi komplek pendidikan di kalangan warga NU,” katanya.

Sementara itu Gus Mukhorobin, ketua ta’mir Masjid NU Ponorogo mengungkapkan banyak kegiatan yang dilakukan di bulan Ramadan kali ini. Kegiatan ini dilakukan selain program syiar agama Islam, juga untuk memakmurkan masjid. Menjelang buka puasa ada kegiatan kajian kitab kuning. “Kajian kitab kuning ini menjadi ciri khas di NU,” katanya.

Selain kajian kitab kuning, juga diadakan salat tarawih dengan imam seorang huffadz atau penghafal Al Qur’an. Juga ada kuliah subuh setiap hari. Kemudian nanti tiba malam-malam ganjil, dilakukan salat malam berjemaah. “Kami juga melakukan buka puasa bersama, namun karena ini di masa pandemi hanya dibatasi sekitar 100 orang. Kegiatan peribadatan di Masjid NU ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat,” pungkasnya. (end/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar