Politik Pemerintahan

Pemandu Lagu dan Pengusaha Sesalkan Penutupan Tempat Karaoke

Para pemandu lagu bersama pengusaha menggelar konferensi pers menyikapi penutupan tempat hiburan dan karaoke di Hotel dan Restoran Putri, Jl Trunojoyo, Minggu (6/1/1/2019).

Pamekasan (beritajatim.com) – Puluhan pemandu lagu bersama pengusaha hiburan di Pamekasan, menggelar pertemuan sekaligus konferensi pers menyikapi kebijakan penutupan tempat hiburan dan karaoke oleh pemkab setempat.

Pertemuan para pemandu lagu dan pengusaha tersebut dilakukan di Hotel dan Restoran Putri Jl Trunojoyo, Minggu (6/1/2019) siang. Sekaligus memprotes kebijakan pemkab setempat yang menutup tempat hiburan dan karaoke yang notabene sebagai sumber penghidupan bagi mereka.

“Menurut kami, tempat karaoke bukan sarang maksiat seperti yang dituduhkan banyak orang. Pekerjaan kami tidak seperti yang mereka pikirkan, kami di dalam room (tempat karaoke) tidak menjual diri dan hanya mengeluarkan suara (bernya untuk mendapatkan uang,” kata salah satu pemandu lagu, VT (inisial).

Dari itu pihaknya meminta pemkab setempat, agar kembali membuka tempat karaoke yang notabene sebagai sarana mencari nafkah. “Kalau ditutup, kami harus makan apa. Keluarga kami juga butuh makan dan hanya pekerjaan ini yang kami bisa,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan pemandu lagu lainnya, inisial YK yang menolak penutupan tempat hiburan dan karaoke. “Kami punya dua anak dan orang tua juga (sakit) struk, dan hanya kami yang menjadi tulang punggung keluarga,” ungkapnya.

“Jadi kami mohon kepada Bupati Pamekasan (Badrut Tamam) untuk membuka kembali tempat karaoke, bisa juga dengan aturan baru dan tidak merugikan masyarakat. Karena kemampuan kami hanya bisa bekerja seperti ini (sebagai pemandu lagu),” jelasnya.

Sementara salah satu pengusaha, Moh Wawan Erlianto menyampaikan kebijakan bupati menutup usahanya tidak bijaksana. Sebab kebijakan tersebut justru merugikan dirinya dan pengusaha lainnya. “Pasca penutupan, kami para pengusaha sangat merugi. Sebab pemerintah menutup sumber penghasilan kami,” kata Wawan.

Bahkan pemilik hiburan dan karaoke King Wan tersebut, juga menyesalkan penutupan usahanya sebelum revisi peraturan daerah (perda) diresmikan. “Semestinya pemerintah tidak melanrat aturan yang ada, apalagi kita juga berusaha sesuai dengan peraturan yang ada,” pungkasnya. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar