Politik Pemerintahan

Pelanggaran Armada Bus di Terminal Selo Aji Ponorogo Turun

Suasana terminal Tipe A Selo Aji Ponorogo (foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang melanda mulai bulan Maret tahun lalu, turut berpengaruh pada pelanggaran yang dilakukan armada bus yang beroperasi di terminal Tipe A Selo Aji Ponorogo.

Tahun 2020, tercatat hanya 292 kasus tilang. Angka tersebut, turun drastis dibandingkan angka pelanggaran di tahun 2019, dimana saat itu ada 625 kasus tilang.

Kepala Terminal Tipe A Seloaji Ponorogo Eko Hadi Prasetyo mengungkapkan turunannya angka armada yang melanggar tersebut disebabkan oleh adanya PSSB saat diawal pandemi. Hal tersebut berpengaruh pada beroperasinya armada bus. Tidak adanya bus yang beroperasi membuat catatan pelanggaran juga terhenti sementara.

“Banyak bus yang tidak beroperasi saat PSSB. Catatan pelanggaran juga berhenti,” kata Eko, Kamis (14/1/2021).

Pelanggaran terhadap syarat dan aturan angkutan jalan, kata Eko masih didominasi oleh pelanggaran penyimpangan trayek, ijin trayek habis namun tetap beroperasi dan KIR mati buku ujinya.

Penyimpangan trayek ini terjadi karena terminal Selo Aji ini tipe A, sehingga menjadi pemberangkatan awal dan pemberhentian akhir.

“Jadi banyak penumpang dari Ponorogo ke luar kota begitupun sebaliknya,” katanya.

Bagi armada bus yang masih membandel melanggar, dikenakan sanksi penundaan pemberangkatan hingga 1×24 jam. Sanksi tersebut diberikan jika armada tersebut sudah kena tilang 2 kali di terminal Tipe A Selo Aji Ponorogo.

“Penundaan keberangkatan itu termasuk sanksi berat menurut kami. Sebab jadwal keberangkatan bus jadi berantakan. Kalau ditilang mereka masih bisa jalan, kalau ditunda kan tidak bisa jalan,” katanya.

Dari tahun 2019 hingga 2020, petugas sudah melakukan sanksi penundaan pemberangkatan sebanyak 72 sanksi. Banyak alasan dari awak bus terkait dengan penyimpangan trayek ini. Mulai dari diperintahkan oleh perusahaan untuk mengambil penumpang di Ponorogo, sampai alasan yang kadang tidak masuk akal, yakni mencuci bus di Ponorogo lebih murah.

“Seumpama berhenti di Madiun, masa disana tidak ada tempat pencucian. Malah ke Ponorogo katanya lebih murah, lha apa juga tidak diperhitungkan bahan bakarnya jika ke Ponorogo. Ada-ada saja alasannya,” pungkasnya. (end/ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim Foto

Air Terjun Telunjuk Raung

Foto-foto Longsor di Ngetos Nganjuk