Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

PBNU Niat Garap Sawah, Gus Ipul Jadi Cangkul, Amin Said Husni Bawa Bibit

Ketua Umum PBNU KH yahya Cholil Staquf (kiri) saat berbincang dengan KH Muhyiddin Abdussomad

Jember (beritajatim.com) – Nahdlatul Ulama tak punya kewajiban untuk mengurus tingkat pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan warga Indonesia. Namun NU perlu membantu pemerintah.

“Sebetulnya urusan hajat hidup masyarakat banyak bukan tanggung jawab NU. Itu tanggung jawab pemerintah. Jadi kalau ada banyak orang sakit, tidak terlayani, yang salah siapa? Pemerintah. Bukan NU,” kata Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Yahya Cholil Staquf, saat acara peletakan batu pertama Rumah Sakit NU, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (18/5/2022) sore.

“Kalau ada banyak orang kurang mendapatkan pendidikan, yang salah siapa? Pemerintah, bukan NU. Karena itu tanggung jawab negara. Kalau ada banyak orang miskin dan terlantar, siapa yang salah? Pemerintah atas nama negara. Karena jelas dalam konstitusi kita bahwa fakir miskin dan yatim piatu dipelihara negara,” kata Yahya.

“Maka jangan terlalu merasa bersalah, kalau banyak orang NU masih miskin, misalnya. Bukan salah kita. Salah pemerintah. Kalau banyak orang NU masih kurang mendapatkan akses pendidikan, bukan salah NU. Salah pemerintah. Sekarang, mari NU membantu pemerintah ini untuk menyangga beban ini,” kata Yahya.

“Karena pemerintah, apalagi pemerintah pusat, sering banyak mengalami kendala ketika hendak merealisasikan program-programnya kepada masyarakat. Ada banyak kendalanya. Ini yang sekarang kita bantu,” kata Yahya.

Pengurus Besar NU saat ini sedang berikhtar membantu pemerintah dengan membuat sejumlah program kerjasama kemasyarakatan. Salah satu Ketua PBNU yang juga mantan Bupati Bondowoso, Amin Said Husni, mengurus kerjasama itu.

“Ada kerjasama dengan Kementerian BUMN yang nanti jadi BUMNU (Badan Usaha Milik NU), ada kerjasama dengan Kementerian UKM, ada kerjasama dengan Kementerian Koordinator Ekonomi, Kementeria Lingkungan Hidup. Untuk menyediakan saluran bagi pemerintah, agar program-programnya sampai kepada masyarakat,” kata Yahya.

Yahya bertamsil, PBNU saat ini berkeliling Indonesia dan bersilaturahmi di sejumlah tempat karena berniat ‘mengerjakan sawah’. “Niat menggarap sawah. Orang menggarap sawah, yang dibawa pertama kali biasanya cangkul dan keranjang untuk bibit. Saya bawa cangkul Saifullah Yusuf (Sekretaris Jenderal PBNU) dan saya bawa keranjang bibitnya ini Amin Said Husni,” katanya.

“Cangkul ini perlunya kalau ada (tanah) yang keras-keras, dicangkul dulu. Kalau ada batu-batu yang ngeyel, dicangkul dulu. Kalau sudah beres, baru ditanam bibitnya, yaitu program-programnya ditanam di lahan itu. Mudah-mudahan semua ikhtiar ini sungguh-sungguh bisa membawa sumbangan signifikan untuk masyarakat dan sungguh diterima sebagai hikmah thoyyibah kepada Nahdlatul Ulama,” kata Yahya. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar