Politik Pemerintahan

Pantai Kenjeran Surabaya Dipenuhi Mangrove, Ini Kata BHS

Politisi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS)

Surabaya (beritajatim.com) – Politisi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyoroti banyaknya tanaman mangrove di bibir Pantai Kenjeran Baru Surabaya (Kenpark). Selain itu, juga terjadinya sedimentasi atau pendangkalan di bibir pantai yang membuat wisatawan kehilangan spot wisata menarik.

BHS yang merupakan Dewan Penasehat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jatim berharap perhatian dan langkah konkret pemerintah mengatasi hal itu. Salah satunya koordinasi antara Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pengembang di kawasan setempat.

“Biaya pengerukan sedimentasi tidak butuh anggaran besar. Harus cepat dilakukan agar Kenjeran tidak kehilangan daya tarik wisatanya. Ingat, Kenjeran itu image Surabaya dan harus mendapat perhatian khusus,” tegas BHS kepada wartawan, Sabtu (24/4/2021).

BHS yang juga penasehat utama sekaligus owner PT Dharma Lautan Utama (DLU) tersebut mengaku sudah membicarakannya dengan Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan dalam waktu dekat bertemu Wali Kota Eri Cahyadi khusus membahas persoalan di Pantai Kenjeran.

Anggota DPR RI periode 2014-2019 ini menyarankan pemerintah melakukan pengerukan di bibir Pantai Kenjeran Surabaya karena terlalu dangkal dan mengancam pariwisata setempat.

“Tepatnya di titik di dalam Kenpark. Di sana selain dangkal, juga dipenuhi pohon mangrove, sehingga air laut tidak bisa sampai ke bibir pantai,” ujarnya.

Dia mengenang beberapa tahun lalu bahwa di tempat tersebut menjadi spot wisata menarik karena berhadapan dengan ombak, sekaligus menawarkan wisata perahu.

Selain itu, pemandangan matahari terbit setiap pagi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, termasuk kuliner lontong kupang, sate kerang ditambah minuman es degan yang kerap diminum langsung dari buahnya.

“Sekarang nyaris tidak ada. Wisatawan enggan masuk karena pantainya sudah tidak terlihat. Pengunjung mau naik perahu juga harus jalan ke pantai yang tak dangkal, sehingga menyulitkan,” ucapnya.

Tak itu saja, di kawasan tersebut merupakan kawasan religi karena menjadi titik pemberangkatan melarung abu jenazah, termasuk klenteng untuk kegiatan peribadatan.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Kelompok Kepiting Kenjeran, Munir, mengapresiasi upaya dari BHS yang mengusulkan adanya pengerukan di bibir pantai, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan.

“Sekarang, perahu yang membawa ikan tidak bisa sampai ke bibir pantai karena dangkal. Kadang masih ada ikan sampai membusuk di perahu. Kalau semua seperti dulu, tentu kesejahteraan nelayan kembali meningkat,” harapnya.

Pihaknya sepakat pohon mangrove yang tumbuh dan dipenuhi sampah segera dibersihkan, sehingga mengembalikan fungsinya sebagai pantai.

“Kalau ombak laut sampai ke bibir pantai seperti dulu, tentu akan menghidupkan kawasan di sini kembali. Kami harap pihak-pihak terkait di pemerintahan mendengarkan dan segera dilakukan pengerukan,” pungkasnya. (tok/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar