Politik Pemerintahan

Pandemi Anjlok, Kini Wisata Kota Batu Mulai Menggeliat

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko saat pembukaan Konferwil AMSI di Kota Batu, Sabtu (24/10/2020).

Batu (beritajatim.com) – Sejumlah tempat wisata di Kota Batu kini mulai buka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat wajib 3M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

Sebelum pandemi pertumbuhan ekonomi di Kota Batu yang tadinya termasuk paling tinggi di Jawa Timur sebesar 6,4 persen mulai terimbas dengan datangnya virus mematikan ini yaitu corona virus disease 2019 (Covid-19).

“Bisa dibayangkan awal pandemi perekonomian di kota Batu anjlok minus 10,” ungkap Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko dalam pembukaan konferwil 2 Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jatim di Kota Batu, Sabtu (24/10/2020).

Dewanti menceritakan ketika saat itu ada tamu dari Jakarta yang menginap di Kota Batu saat kembali ke Jakarta ternyata positif.

“Kami melakukan tracing di hotel ternyata ada yang kena yaitu bagian front office dan cleaning service,” tambah Dewanti.

Tentunya situasi tersebut membuat dirinya sebagai Wali Kota Batu langsung menggelar rapat dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mencari solusi.

“Akhirnya kami putuskan hotel dan tempat wisata di Kota Batu tutup total untuk memutus tali penyebaran covid ini,” kata Dewanti.

Wali Kota Wanita pertama di Kota Batu ini menambahkan berkat saran dan semangat dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa akhirnya pariwisata Kota Batu kembali menggeliat.

“Melihat Ibu Gubernur sering keliling Jatim dengan gowes kami sebagai kepala daerah juga harus berani turun kembali menyapa warga masyrakat. Sekarang berkat kerjasama semua pihak ekonomi di Kota Batu kembali membaik,”tandasnya.

Sebelumnya banyak yang ragu dengan dibukanya lokasi wisata, namun dengan keyakinan dan keberanian dan semangat dari Gubernur Jatim akhirnya pada bulan Juli lokasi wisata dibuka kembali dengan tetap menggunakan protokol kesehatan membuat ekonomi di Kota Batu mulai tumbuh.

“Tempat-tempat wisata yang besar langsung membeli alat deteksi suhu otomatis, Pemkot Batu juga memfasilitasi rapid test dan swab untuk ratusan karyawan.” katanya.

Di awal-awal pembukaan tersebut lokasi wisata yang besar masih berat karena jika ingin mendapat keuntungan atau balik modal minimal harus 500 pengunjung apalagi Pemerintah Kota Batui membatasi 3 ribu pengunjung perhari dari kapasitas 5 ribu.

“Saat awal memang berat karena banyak lokasi wisata yang rugi hanya 100 hingga 200 pengunjung saja. Namun sekarang sudah mulai seribu pengunjung yang datang ke lokasi wisata setiap hari” tutupnya. (ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar