Politik Pemerintahan

Mengenal Anarkisme (3)

Pandangan Terbelah Kaum Anarkis terhadap Negara

foto/ilustrasi

Jember (beritajatim.com) – Penganut ideologi anarkisme terdiri atas dua kelompok, yakni kaum anarkis kolektif dan individu. Mereka sama-sama bersikap kritis terhadap negara dalam derajat yang berbeda.

Tokoh anarkisme Bakunin menegaskan: tidak ada negara sedemokratis apapun, bahkan negara paling merah sekalipun, yang bisa memberikan apa yang benar-benar diinginkan rakyat, seperti kebebasan mengorganisasikan diri dan menangani urusan mereka sendiri dari bawah ke atas, tanpa campur tangan atau kekerasan dari atas.

Kaum anarkis kolektif atau anarko-sindikalis meyakini bahwa negara sebaiknya dibubarkan, karena ujung-ujungnya hanya menindas warganya melalui aturan, pajak, dan perangkat keamanan seperti polisi dan tentara. Negara dalam pandangan mereka sebaiknya digantikan komunitas-komunitas bebas yang terdiri dari individu-individu yang saling bantu. Hukum yang diambil adalah hukum moral dan paksaan moral, bukan hukum formal, agar orang-orang mau saling bekerjasama secara adil.

Sedikit berbeda, kaum anarkis individual tidak menolak negara. Mereka hanya menginginkan negara tidak banyak ikut campur dalam urusan pribadi, dan sebaiknya lebih menyerahkan urusan perekonomian dan pencapaian kesejahteraan kepada swasta. Perekonomian yang diurus individu atau swasta akan lebih efisien daripada diurus negara.

Robert Nozick dalam buku Anarchy, State, and Utopia adalah salah satu yang menyetujui perlunya negara untuk melindungi individu dalam masyarakat. Dalam pandangan kaum libertarian klasik, negara tak ubahnya penjaga malam yang dibatasi fungsinya untuk melindungi semua warga dari kekerasan dan pencurian atas hak-hak mereka.

Namun kendati hadir, peran negara tak hanya harus minimal, tapi ultraminimal. Negara hanya boleh menggunakan semua kekuatan untuk mempertahankan diri dan melindungi semua individu yang sepakat membayar pajak. Mereka yang tidak membayar pajak, seperti orang-orang miskin, tidak akan mendapat perlindungan dan karenanya, menurut Nozick, boleh menerapkan regulasi di luar kesepakatan warga negara ultraminimal ini.

Kondisi ini tentu tidak sempurna dan berbahaya, karena negara ultraminimal tidak bisa memaksakan aturan atas orang-orang yang tak membayar pajak perlindungan. Kelemahan itu bisa ditambal dengan cara mereka yang mampu membayar pajak memberikan kompensasi untuk orang-orang yang tak mampu. Dengan demikian, orang-orang yang tak mampu bayar pajak ini bisa menjadi warga negara dan ikut dilindungi dengan kewajiban mematuhi aturan yang berlaku.

Pertanyaannya: seberapa serius ancaman kelompok anarkis ini terhadap stabilitas negara? Anarkisme memang menginspirasi gerakan-gerakan perlawanan di sejumlah tempat di dunia. Namun tak pernah ada sejarah gerakan anarkis yang berhasil menguasai dan membubarkan negara. Anarkisme hanya berhenti pada gerakan-gerakan perlawanan dan kritik sosial.

Optimisme kaum anarkis yang meyakini tak perlu adanya struktur formal dalam gerakan dan hanya dibutuhkan kerelaan untuk menjalin kerjasama justru menjadi titik lemah. Kaum anarkis lupa, bahwa setiap individu akan selalu memiliki kepentingan pribadi yang membutuhkan aturan yang mengikat. Tanpa hukum yang dipatuhi dan disepakati semua orang, yang terjadi adalah konflik dan pertarungan antarsesama manusia. Tak ada harmoni tanpa regulasi.

Manusia bukan malaikat. Dan kondisi anarkia (kondisi tanpa negara atau kekuatan pemaksa) akan selalu menjadi utopia. Atau setidaknya itu sekadar cita-cita Sex Pistols yang diteriakkan dari atas panggung dan dinyanyikan bersama-sama.

I want to be anarchy
And I want to be anarchy
(Oh what a name)
And I want to be an anarchist
(I get pissed, destroy!) [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar