Politik Pemerintahan

Mengenang Soeharto, The Smiling General (2)

Pak Harto Menuju Sarajevo, Alon-alon Asal Kelakon  

Presiden RI ke-2, Soeharto. FOTO/Nationaal Archief

Jember (beritajatim.com) – Di mata ilmuwan Kuntowijoyo, Soeharto adalah seorang pemimpin yang mendasarkan diri pada ‘an act of faith’ atau perbuatan berdasarkan keyakinan, dan bukan berdasarkan nalar. Sebagaimana dikutip Tempo dari O.G. Roeder, Soeharto yakin saat bertindak mengisi kekosongan pimpinan Angkatan Darat. “Saya bertindak atas keyakinan saya sendiri,” demikian katanya.

Soeharto meyakini keputusan untuk membasmi Gerakan 30 September yang diduganya didalangi Partai Komunis Indonesia. Komandan Pasukan Khusus Wismoyo Arismunandar mengatakan, falsafah Jawa Soeharto adalah alon-alon asal kelakon.

“Falsafah yang satu ini…bukan ‘melaksanakan dengan pelan-pelan’ melainkan ‘melakukan sesuatu dengan yakin dan berlandaskan kebenaran’. Pak Harto merealisasikannya dengan sikap dan perilaku yang mantap,” katanya.

Soeharto berpesan kepada Wismoyo saat masih berpangkat mayor. “Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, dan pandai menganalisis,” katanya.

Ajudan Soeharto, Suryadi, sering melihat sang presiden membuat disposisi kebijakan yang berbeda dari informasi yang masuk. Soeharto beralasan, banyak faktor yang mempengaruhi dan harus dipertimbangkan. “Ini keputusan berskala nasional,” kata sang presiden.

Keyakinan pula yang membuat Soeharto berani mengambil risiko. Tahun 1995, saat Semenanjung Balkan tengah bergolak, ia pamit kepada Presiden Kroasia untuk berkunjung ke Sarajevo, Ibu Kota Bosnia. Padahal saat itu pasukan khusus Persatuan Bangsa-Bangsa baru saja ditembaki di wilayah sana.

“Kita ini pemimpin Negara Nonblok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang, ya kita datang saja. Kita tengok,” katanya.

Keyakinan pada diri Soeharto untuk bertindak, boleh jadi dibentuk oleh pengalaman militernya selama puluhan tahun. Dalam dunia militer, ada kalanya seorang prajurit tak boleh hanya mengandalkan taktik, tapi juga insting.

Dan insting harus dilakukan dengan keyakinan zonder keraguan, seperti salah satu semboyan militer: jika ragu-ragu lebih baik kembali. Tentu saja, insting dan keyakinan didapat dengan kemampuan mengenali situasi.

Keyakinan Soeharto dalam mengambil sikap terpancar dari bahasa tubuhnya. “Pak Harto itu, bahasa tubuhnya dan bahasa kata-katanya padat. Kalau ketemu dia, dirasakan sekali kepadatan dan wibawanya dan kata-katanya,” kata Juwono Sudarsono, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sebagaimana dikutip Tjipta Lesmana.

Jika Soeharto sudah yakin terhadap sesuatu, maka tak satu pun bisa menolak. Letjen Purnawirawan A.M. Hendropriyono, mantan Menteri Transmigrasi mengatakan, jika Soeharto berketetapan ‘A’, maka harus ‘A’ yang dilaksanakan.

Tidak ada tawar-menawar. Namun, ia berani membela saat para menterinya dikritik dan dikecam karena suatu kebijakan. “…Nggak usah ngadu pun, Pak Harto dengar kalau salah seorang menterinya disalah-salahi. Pak Harto bilang, ‘saya yang suruh’,” kata Hendropriyono. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar