Politik Pemerintahan

Terbukti Lestarikan Reyog

Paguyuban Reyog se-Ponorogo Dukung Ipong-Bambang

Pementasan reyog di Taman Sukosewu Desa/Kecamatan Sukorejo, Minggu (29/11/2020) sore. [Foto/Endra Dwiono]

Ponorogo (beritajatim.com) – Bertempat di Taman Sukosewu di Desa/Kecamatan Sukorejo, sejumlah seniman yang tergabung dalam Paguyuban Reyog se-Ponorogo mengadakan pentas seni dengan tema jati diri, Minggu (29/11/2020). Pagelaran tersebut dipentaskan dengan menaati protokol kesehatan Covid-19 yang ketat.

Seperangkat gamelan reyog ditabuh mengiringi tarian dari jathil, bujang ganong dan dadak merak. Selain itu, dalam gelaran itu juga menampilkan kucing-kucingan. Diceritakan dua kucingan ini bertengkar. Namun, di tengah-tengah pertengkaran tersebut, hadirlah sang warok yang menengahi dan mendamaikan mereka.

Adegan ini memiliki filosofi yang begitu dalam. Sejatinya, segala perselisihan apapun yang ada di Ponorogo, bisa diselesaikan dan didamaikan oleh orang Ponorogo itu sendiri. Pementasan ini seolah menjadi sindiran bagi segelintir oknum yang ingin memanfaatkan momentum Pilkada Ponorogo 2020 ini.

Dengan berusaha membuat sekat-sekat diantara masyarakat, untuk memperoleh kepentingan pribadi maupun golongan. Dalam kesempatan tersebut, paguyuban reyog se-Ponorogo itu menyatakan dukungannya kepada Ipong Muchlissoni dan Bambang Tri Wahono.

Sebab, mereka merupakan figur pemimpin yang telah terbukti mampu menjaga keguyuban masyarakat bumi reyog. “Sumbangsih Pak Ipong selama 5 tahun pemerintahannya sangat luar biasa untuk seniman dan pelestarian reyog Ponorogo,” kata Tokoh seniman reyog kulon kali, Supriyono, usai pementasan.

Supri menceritakan di era Ipong, seniman reyog obyok itu seperti bangun dari tidurnya. Sebab, pada pemerintahan sebelumnya sempat vakum, jarang ada pementasan. Namun saat ini, dengan program yang pro pada pelestarian reyog, sekitar 80 persen desa di Ponorogo sudah memiliki reyog lengkap dengan gamelannya.

Bahkan mampu mencatatkan rekor MURI dengan pementasan tarian jathil terbanyak dan pengenalan pentas seni reyog hingga ke kancah Internasional. “Reyog obyok setiap tanggal 11 itu membuat kaum milenial atau anak muda semakin berminat untuk mementaskan reyog. Ini bentuk regenerasi yang baik, anak muda mau nguri-uri budaya asli leluhur Ponorogo,” katanya.

Untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, calon bupati (cabup) Ipong Muchlissoni hadir secara virtual. Dia mengucapkan terimakasih, kepada pegiat seni yang tergabung dalam Paguyuban Seni se-Ponorogo. Karena telah mempercayakan dukungan kepada dirinya dan cawabupnya Bambang Tri Wahono dalam Pilkada tahun ini.

“Terimakasih dulur-dulur seniman reyog se-Ponorogo, mari kita berpartisipasi aktif dalam menjaga kondusifitas Pilkada di Ponorogo,” kata Ipong.

Dalam kesempatan itu, Ipong berpesan agar pesta demokrasi di Ponorogo dipenuhi dengan kampanye yang positif dan kegembiraan. Serta tetap disiplin dalam penerapan protokol kesehatan untuk kebaikan bersama.
Dia menyatakan berkomitmen untuk melanjutkan keberhasilan melestarikan dan memajukan kesenian Reyog Ponorogo. Dengan cara membangun museum reyog dan bertekad untuk memperbanyak kegiatan festival kesenian khas daerah ditingkat nasional dan internasional.

“Apabila diberi amanah lagi memimpin Ponorogo, pelestarian reyog masih program prioritas kami. Yakni membangun museum reyog dan memperbanyak kegiatan kesenian yang berskala nasional dan internasional,” pungkasnya. [end/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar