Politik Pemerintahan

ODR di Kota Mojokerto Terus Meningkat, Pengaruhi Penularan Covid-19

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari peta sebaran Covid-19 Kota Mojokerto pernah tanggal 28 April 2020, jumlah Orang Dengan Resiko (ODR) di Kota Mojokerto 1.592 orang, Orang Dalam Pemantauan (ODP) 280 orang, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) delapan orang, tiga pasien diantaranya meninggal dan Orang Tanpa Gejala (OTG) dua orang. Peningkatan kasus ODR dinilai sangat mempengaruhi penularan Covid-19 di Kota Mojokerto.

“Peningkatan ODR khususnya di bulan puasa dan idul fitri harus diwaspadai dan diperlukan peran serta aktif dari Posko Covid-19 Kelurahan, RT, RW, laporan masyarakat, kerjasama, monitoring kesehatan ODR dari pemudik yang dilaporkan ke puskesmas lewat Gayatri,” ungkap Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, Rabu (29/4/2020).

Peran serta aktif masyarakat untuk ikut memantau, melaporkan ODR terkait pelaksanaan social distancing. Yakni tetap di rumah, pakai masker, cuci tangan pakai sabun, berjemur dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara massif seluruh lapisan masyarakat di Kota Mojokerto menjadi garda depan untuk pemutusan mata rantai Covid-19.

“Maka diperlukan kewaspadaan perkembangan dan pemantauan ODR di setiap kelurahan dan bagaimana peran serta setiap kelurahan yang potensi kenaikan ODR nya tinggi perlu tindakan aktif dari Posko RT/RW. Jumlah ODP di Kota Mojokerto mencapai 280 orang, 23,05 persennha merupakan dari ODR,” katanya.

Sementara jumlah ODP meningkat fluktuatif 280 orang, 50 persen lebih masih dalam pemantauan. Masih kata Ning Ita (sapaan akrab, red), perlu kerjasama Posko Covid-19 Kelurahan, RT/RW, masyarakat, tim kesehatan dan masyarakat aktif lapor jika ada warga yang sakit. Sehingga segera mendapatkan respon cepat penanganan dan ketaatan ODP untuk PHBS, meningkatkan efekifitas kesehatan dan imunitas.

“Persentase ODP yang cukup tinggi, 23,05 persen diperlukan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan perilaku PHBS dan upaya pemutusan mata rantai Covid-19 secara massif di masyarakat perseorangan dan lingkungan. Sampai saat ini, jumlah PDP ada 8 orang, 3,37 persen dari ODP. Persentase PDP lebih besar dari proyeksi sehingga perlu adanya kewaspadaan pada pasien-pasien PDP,” jelasnya.

Menurut Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto ini, semuanya ada penyakit penyerta maka harus lebih waspada untuk menjaga usia rentan. Diantaranya bayi, balita, lanjut usia (lansia), masyarakat dengan penyakit jantung, hipertensi, DM, TBC untuk taat protocol kesehatan dan aktif komunikasi lewat aplikasi Gayatri.

“PDP harus tertangani secara professional standar pelayanan dipatuhi, semua nakes harus melaksanakan Universal Precaution Infection, semua pakai APD, kejujuran masyarakat untuk tidak takut menyampaikan secara jujur riwayat perjalanan, riwayat sakit untuk mencegah penularan khususnya kepada nakes yang melayani dan perlakuan kepada masyarakat untuk dilakukan tracking dan vending oleh nakes,” paparnya.

“Tim Tracing harus bergerak cepat, cermat dan melakukan koordinasi dengan Tim Posko Kelurahan, RT/RW serta babinsa, babinkamtibnas untuk menguatkan pendisiplinan masyarakat untuk memutus mata rantai Covid-19. Jika keluar rumah pakai masker, cuci tangan pakai sabun, berjemur dan melakukan PHBS. Dari 8 PDP, 3 orang meninggal dunia, 1 orang yang meninggal pada tanggal 16 april 2020 lalu, hasil swab testnya negatif,” tegasnya.

“OTG di Kota Mojokerto 2 orang, mereka terpapar dari Covid-19 positif luar kota dan dalam pemeriksaan rapid test dan swab non reaktif (1 orang masih dalam pemantauan). OTG sama bahayanya dengan PDP maupun ODP, oleh sebab itu perlu pemantauan ketat tim tracing, masyarakat, babinsa dan babinkamtibnas. Resiko wilayah dimulai dari ODR tinggi, ODP tinggi, PDP tinggi dan adanya OTG,” urainya.

Sehingga lanjut orang nomor satu di Kota Mojokerto ini, hal tersebut menjadi kewaspadaan untuk persebaran penularan di setiap kelurahan di Kota Mojokerto.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar