Politik Pemerintahan

NU Tlanakan Minta Pemkab Pamekasan Tutup Wiraraja

Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah warga Nahdliyin perwakilan dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (NU) bersama Badan Otonom (Banom) se kecamatan Tlanakan, melakukan audiensi ke Gedung DPRD Pamekasan, Jl Kabupaten 107, Senin (29/6/2020).

Audiensi tersebut dilakukan dalam rangka meminta pemerintah kabupaten (pemkab) setempat, agar segera menutup Hotel, Cafe dan Resto Wiraraja di Jl Raya Tlanakan. Terlebih pasca adanya penggerebekan ‘pesta narkoba’ yang melibatkan banyak orang, beberapa waktu lalu.

Puluhan massa dari perwakilan NU Tlanakan, ditemui oleh perwakilan Komisi I DPRD Pamekasan, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, dalam hal ini Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Pamekasan, Camat Tlanakan, serta Satpol-PP Pamekasan.

Hanya saja dalam kesempatan tersebut, pihak Hotel, Cafe dan Resto Wiraraja tidak menghadiri undangan dari DPRD Pamekasan. Sekalipun mereka juga diundang untuk dimintai keterangan seputar tuntutan dari masyarakat Tlanakan. melalui NU Tlanakan.

Suasana audiensi NU Tlanakan ke Gedung DPRD Pamekasan, Jl Kabupaten 107, Senin (29/6/2020).

“Terus terang kami merasa sangat kecewa dengan adanya kejadian yang mencederai moral masyarakat, khususnya di Tlanakan. Salah satunya dengan adanya dugaan pesta narkoba yang terjadi di Wiraraja,” kata Ketua Ansor Tlanakan, Sutan Ali Syabana.

Kekecewaan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pihak pengelola Wiraraja, tetapi juga pemkab setempat yang dinilai lalai menerapkan regulasi yang sudah ditetapkan. “Sesuai amanat Perda Pamekasan Nomor 2 Tahun 2019 Pasal 6 Ayat 2 Huruf d tentang Perda Karaoke sudah dihapus, artinya tidak boleh ada usaha karaoke di Pamekasan. Hal itu sudah final alias tidak bisa ditawar,” ungkapnya.

Berdasar perda tersebut, pemerintah memiliki kewenangan terhadap pengawasan, pengendalian hingga penindakan usaha hiburan dan rekreasi seperti yang tertuang dalam Pasal 6 Ayat 3 Perda 2/2019. Apalagi kejadian ‘pesta narkoba’ jelas mencederai agama, adat istiadat, budaya serta nilai susila masyarakat.

“Informasi yang kami dengar bahwa Wiraraja ini sudah ditutup dan bersifat permanen, tapi kami merasa sangat kecewa karena ternyata masih buka dan tetap beroperasi. Tragisnya justru digunakan sebagai tempat pesta narkoba,” sesalnya.

Dari itu pihaknya meminta pemerintah khususnya pihak terkait, agar segera mendindak tegas keberadaan berbagai jenis usaha yang melanggar regulasi. Termasuk Wiraraja yang dinilai sudah melampaui batas kewenangan dan kewajaran. “Jadi kami meminta pemerintah segera menutup secara permanen keberadaan Hotel, Cafe dan Resto Wiraraja di Tlanakan, secara permanen,” tegasnya.

“Selain itu, kami juga meminta pihak terkait agar memberi sanksi tegas kepada pengelola Wiraraja yang sudah jelas melanggar regulasi. Termasuk juga menuntut pihak terkait agar bersungguh-sungguh menerapkan aturan, sebab kami khawatir jika hal itu tidak dilakukan justru masyarakat yang bertindak,” pungksnya. [pin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar