Politik Pemerintahan

Ning Ita Wali Kota Mojokerto Temukan Pasutri Penyedia Rokol Ilegal

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari saat mendatangi rumah pasutri lansia penyedia rokok ilegal di Lingkungan Trodopo, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke home industri penyedia rokok ilegal. Hasilnya, Ning Ita (sapaan akrab, red) menemukan pasangan suami (pasutri) yang sudah lanjut usia (lansia) di Lingkungan Tropodo, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto yang menyediakan rokol ilegal.

Secara terang-terangan, mereka menempelkan banner di depan rumah yang menjelaskan jika, mereka menerima pesanan rokok lintingan kategori ilegal. Dari hasil sidak diketahui, keduanya merupakan warga Kota Surabaya yang kontrak dan berjualan kebutuhan rumah tangga tak terkecuali rokok ilegal.

Sidak tersebut dilakukan Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto setelah membuka Sosialisasi ‘Gempur Rokok Ilegal’ dan Ketentuan di Bidang Cukai Bagi Karyawan Industri Rokok Balai Kelurahan Balongsari Jalan Empu Nala Kecamatan Balongsari, Kota Mojokerto. Pengawasan cukai rokok berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007.

Yakni tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai serta Undang-undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai narasumber perwakilan dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Sidoarjo. Turut hadir Wakil Wali Kota Mojokerto, Achmad Rizal Zakaria.

Usai membuka sosialisasi, Ning Ita melakukan sidak ke Lingkungan Tropodo. Ning Ita terkejut lantaran, pemilik rumah yang menyediakan rokok lintingan tersebut merupakan pasutri lansia. Sehingga Ning Ita hanya memberikan pemahaman saja, jika apa yang telah dilakukan atau barang yang diperjualkan termasuk kategori pelanggaran hukum.

Sehingga usaha tersebut harus segera dihentikan. Ning Ita kemudian memberikan striker bertuliskan ‘Gempur Rokok Ilegal’. Kedepan, pihaknya masih akan mengkaji secara komprehensif program Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) untuk mewadahi warga Kota Mojokerto yang mencari penghidupan dengan menjual belikan rokok lintingan.

“Hari ini, kita menyelenggarakan kegiatan sosialisasi terkait kebijakan cukai hasil tembakau. Di mana masyarakat kita libatkan khusus dari beberapa pekerja pabrik rokok yang ada di Kota Mojokerto. Tujuannya adalah mereka juga bisa ikut mensosialisasikan dan juga mengawasi apabila ada di lingkungan mereka, rokok-rokok ilegal yang jelas-jelas memang tidak ada pita cukainya,” ungkapnya, Sabtu (14/11/2020).

Setelah acara sosialisasi yang dilakukan secara klasikal, Ning Ita turun mendatangi lokus dimana di salah satu titik ada tempat pembuatan logo rokok ilegal. Namun kebetulan bukan warga Kota Mojokerto, dari hasil sidak diketahui pasutri lansia tersebut berdomisili di Kota Mojokerto belum lama sehingga diberikan pemahaman bahwa apa yang dilakukan kategori pelanggaran hukum.

“Sehingga harus segera dihentikan supaya tidak ada konsekuensi hukum kedepannya. Mereka melinting rokok, dua orang lansia ini kemudian di depan rumah yanh dikontrak ini dipasang papan menyediakan rokok yang kategori ilegal tersebut sehingga ini kita wajibkan dilepas kemudian kami pasang stiker untuk Gempur atau stop rokok ilegal dan kita tegaskan kepada beliau berdua untuk menghentikan produksinya,” katanya.

Pasutri lansia tersebut dihimbau untuk tidak menjual lagi rokok lintingan tersebut. Menurutnya, pihaknya sempat berdiskusi dengan Kepala KPPBC Sidoarjo jika ada salah satu program yakni KIHT. Apabila memang potensi dalam rokok yang selama ini ilegal bisa diakomodir untuk dibuatkan satu area kawasan industri maka akan menjadi satu kemungkinan yang akan direalisasikan di Kota Mojokerto.

“Namun sampai saat ini kan kita belum bisa melakukan semacam kajian yang komprehensif terkait kebutuhan akan hal ini. Tapi itu masih dimungkinkan ada program tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, penjual rokok ilegal lintingan, Mbah Sabin mengaku, kaget saat rumahnya di sidak Ning Ita Wali Kota dan tak tahu menahu jika apa yang dijualnya tersebut melanggar aturan. “Ini rokok lintingan biasa, saya jual murah meriah, satu bungkus plastik isi 12 biji saya jual cuma Rp6 ribu. Dan pembelinya juga tak banyak, hanya dari warga lingkungan sekitar saja,” pungkasnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar