Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Ngopi Budaya, Pemred Beritajatim Lancarkan Kritik di Hadapan Bupati Jember Hendy

Jember (beritajatim.com) – Dwi Eko Lokononto, Pemimpin Redaksi beritajatim.com, memberikan kritik langsung di hadapan Bupati Hendy Siswanto, dalam acara podcast Ngopi Budaya, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/1/2022) malam.

Ngopi Budaya adalah acara podcast yang menghadirkan Bupati Hendy sebagai host. Di edisi kedua ini, hadir dua narasumber yakni Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Jawa Timur Arief Rachman dan Dwi Eko Lokononto yang akrab dipanggil Luki dengan tema bahasan ‘Virus dan Viral’.

Dalam kesempatan itu, Hendy bercerita soal aksi sebagian warga yang menanam padi di atas jalan yang rusak yang kemudian menjadi viral di media sosial. “Kenapa marahnya tidak di tempat lain? Padahal itu jalan umum. Pemerintah melihat bahwa perlu ada edukasi,” katanya.

“Memang masyarakat sepertinya belajar bahwa informasi yang viral akan mendapat reaksi dari pengambil keputusan. Dan untuk bisa viral mereka harus bisa menampilkan secara gambar, secara narasi harus menarik. Kalau jalan ditanami padi pasti menarik. Kalau ditanami pisang itu sudah bisa. Ini berarti masyarakat Jember kreatif,” kata Luki.

Luki menyebut kreativitas warga dalam melakukan kritik itu harus dihargai dan energinya diarahkan untuk membuat Jember menjadi lebih baik. “(Energi negatif atau positif) tergantung pada Bapak dalam memanfaatkannya. Tugas pemimpin paling berat memang itu. Apalagi eranya adalah era post truth, pasca kebenaran. Orang hanya mau mendengar dan melihat sesuai kepentingannya. Kalau dia punya kepentingan agar jalan bagus, maka tugas Bapak adalah bagaimana menangkap energi itu,” katanya.

Luki juga mengkritik mudahnya Bupati Hendy meminta maaf saat ada polemik. “Saya agak menyayangkan pada beberapa kasus yang agak viral. Misalnya soal dana makam (pemakaman korban Covid) yang berhenti pada permintaan maaf,” katanya.

Kontroversi terjadi tahun lalu, saat Bupati Hendy diberitakan menerima tunjangan sebagai pembina kegiatan pemakaman korban Covid. Sesuatu yang sebenarnya tidak hanya diterima Hendy sebagaimana diatur regulasi, tapi juga oleh kepala daerah seluruh Indonesia.

Menurut Luki, publik punya hak untuk bertanya tentang itu. “Bukan hanya terhadap bupati Jember, tapi terhadap seluruh kepala daerah di Indonesia. Tapi Bapak sudah menjadi martir mengorbankan diri. Untuk itu saya menghormati. Tapi sebagai jurnalis saya berpikir: waduh, ini Pak Bupati kok tiba-tiba mengorbankan diri menjadi martir,” katanya.

Luki mengingatkan, ada jejak digital yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun mendatang. “Permintaan maaf itu akan menjadi jejak digital. Mungkin Bapak tidak akan dirugikan, tapi kelak cucu atau cicit Bapak akan membaca bahwa ‘eyangku meminta maaf terhadap sesuatu yang sebetulnya menjadi haknya’,” katanya.

Hendy kemudian menceritakan permintaan maaf itu disampaikan di dalam sidang paripurna DPRD Jember. “Tidak ada uang satu rupiah pun yang saya korupsi. Statement itu tertulis dalam lembaran pertanggungjawaban di paripurna,” katanya.

Kritik Luki lainnya adalah soal penanganan terhadap viral Bupati Hendy yang ngunduh mantu di tengah masa pandemi. “Tidak apa-apa minta maaf. Tapi misalnya dalam konteks mantu yang sempat viral karena dianggap melanggar protokol kesehatan. Kalau tidak melanggar prokes, ya tidak harus minta maaf,” katanya.

Seharusnya, menurut Luki, Hendy mengajak masyarakat untuk menyaksikan secara utuh rekaman video pernikahan tersebut mulai dari awal sampai akhir. “Itu akan lebih mendidik. Masyarakat akan menikmati sebuah perhelatan, sebuah resepsi pernikahan, yang taat protokol,” katanya.

Namun Luki memuji acara Ngopi Budaya yang digelar Hendy. “Sepertinya di Indonesia acara seperti ini hanya ada di Jember. Bupatinya memang kreatif, sama dengan masyarakatnya. Pemimpin kan cerminan masyarakat. Masyarakatnya kreatif, pemimpinnya kreatif. Sejajar dan sebangun,” katanya.

“Saya pikir kalau pemimpin terlalu takut berseberangan dengan opini publik, saya pikir juga tidak begitu (bagus). Masyarakat Jember cerdas-cerdas dan saya pikir dengan penjelasan bupati, mereka bisa menerima. Mohon maaf, tolong disampaikan kepada Pak Bupati karena saya mengkritik,” kata Luki.

Hendy menyebut kritik adalah penting dalam membangun Jember. Kritik adalah bagian dari kolaborasi. “Rawon dikatakan rawon kalau ada kluwek. Kluwek warnanya hitam. Menjadi nikmat kalau kita berkolaborasi bersama-sama,” katanya. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar