Politik Pemerintahan

Nasib PKL Jalan Setail Surabaya Belum Jelas

Surabaya (beritajatim.com) – Komisi B DPRD Kota Surabaya kembali memanggil direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS) dalam rapat dengar pendapat (hearing) di ruang rapat Komisi B terkait polemik PKL di Jalan Setail.

Namun, Direktur Utama KBS kembali tidak hadir dalam kesempatan kedua hearing yang dilakukan Komisi B dengan pihak pedagang Jalan Setail di area KBS Surabaya.

Mangkirnya Dirut KBS dalam undangan Hearing Komisi B bersama pedagang KBS Jalan Setail dibenarkan Wakil Ketua Komisi B DPRD kota Surabaya, Anugrah Ariyadi.

“Sudah dua kali undangan hearing kami layangkan pada Dirut KBS. Akan tetapi, kembali Dirut KBS tidak hadir undangan kami di Komisi B, khususnya membahas soal eks pedagang di jalan Stail Surabaya di area parkir KBS itu,” ujarnya.

“Ini artinya bahwa penugasan empat wakil manajemen KBS tidak bisa memberikan keputusan apapun. Yo percuma hearing dengan perwakilan KBS yang tidak bisa memberikan keputusan apapun. Ya kita undang lagi nanti sampai Dirut KBS memberikan keterangan pada kami,” tutur Anugrah lebih lanjut.

Untuk diketahui, berdasarkan informasi yang dapat dari para pedagang, dulu mereka dikoordinir oleh Mustofa untuk berjualan disana.

“Akan tetapi kontrak kerjasamanya sudah selesai alias habis masa kontraknya antara KBS dengan Mustofa, sehingga diduga dipindahtangankan ke pihak lain. La sekarang kok muncul lagi pedagang-pedagang lain di area parkir KBS yang dikoordinir orang lain. Kalau niatnya mau ditertibkan harusnya gak ada lagi PKL lain yang boleh berjualan di area itu,” ungkap Anugrah.

Di sisi lain, perwaililan eks PKL Jalan Setail area KBS Surabaya, Tri Sugeng memaparkan turut memapaparkan jika ada sekitar 16 eks yang meminta keadilan setelah ditertibkan pihak manajemen KBS.

“Sekarang malah ada PKL lain yang berasal dati luar kota b9leh berjualan di area parkir KBS,” tutur Tri.

“Untuk itu kami pada eks pedagang jalan Stail yang berjualan di area parkur KBS mengadukan ke DPRD kota Surabaya. Kalau dipaksakan harus menemoati stan-stan di falam KBS jelas kami tidak mampu. Sebab biaya sewanya mahal yakni Rp 2 juta an per bulan. Sedangkan berjualan di area parkir saja pendapatan kami tidak sampai segitu,” tegas Tri.[ifw/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar