Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Namai Alun-alun Surabaya, DKS Sebut Pemkot Kaburkan Sejarah Balai Pemuda

Alun-Alun Surabaya.(Foto/Ade Mas Satrio).

Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Chrisman Hadi mengaku kecewa dengan keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang menamai kawasan Balai Pemuda sebagai Alun-alun surabaya. Menurutnya itu sama saja mengaburkan sejarah besar Balai Pemuda.

Dia bercerita bahwa sejarah Balai Pemuda pada masa September hingga Nopember 1945, menjadi markas perlawanan pemuda terhadap tentara sekutu.

Sehingga, oleh Bung Karno dinamai Balai Pemuda, yang disematkan pada sebuah prasasti peringatan. “Hebat betul (Pemkot) hendak melupaken sejarah, kalau hendak menghapus nama Balai Pemuda,” katanya saat dihubungi, Kamis (20/1/2022).

Dia menyebut bahwa tugu peringatan dan pemberitahuan perihal sejarah Balai Pemuda, sudah dirobohkan oleh Pemkot Surabaya pada awal pembangunan ‘Alun-alun Surabaya’ saat ini. “Tugu ini, dirobohken ketika awal pembangunan di mulai, kemudian lenyap tak berbekas,” ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan, bahwa saat pengerukan basement, yang saat ini menjadi galeri lukisan bawah tanah. Banyak ditemukan tengkorak dan kerangka-kerangka jenazah yang kemungkinan besar, kerangka tersebut merupakan pejuang kemerdekaan di masa Revolusi 1945. “Ketika ditemukan dulu, tak satu pun media yang menulis perihal itu,” tegasnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga Surabaya, Prof Purnawan Basundoro mengatakan, bahwa pemberian nama ‘Alun-alun Surabaya’ oleh Pemkot Surabaya, terbilang aneh. “Karena kawasan tersebut secara fisik tidak mengacu pada wujud alun-alun pada umumnya,” sebutnya.

Selain tidak sesuai dengan konsep alun-alun pada umumnya, menurut Purnawan, Pemkot Surabaya memaksakan kawasan Balai Pemuda sebagai alun-alun, tentu akan mengaburkan aspek sejarah. “Sampai saat ini, yang namanya Alun-alun Surabaya sebenarnya, diyakini berada di kawasan tempat berdiri Tugu Pahlawan,” jelasnya.

Kemudian, pada saat masyarakat memprotes perihal kesejarahan Balai Pemuda, tidak mendapatkan respon yang memadai dari Pemkot Surabaya. “Nah, menjembatani berbagai hal terkait keberadaan alun-alun yang melenceng dari konsep tersebut, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur akan menyelenggarakan diskusi membahas anomali Alun-alun Surabaya,” ucapnya.

Dia berharap, hasil dari diskusi kesejarahan tersebut, akan ada kristalisasi atau kesepahaman pemikiran yang akan disampaikan ke Pemerintah Kota Surabaya.(asg/kun)


Apa Reaksi Anda?

Komentar