Politik Pemerintahan

‘Musuh Bersama’ di Pilwali, Pengamat: PDIP Koalisi Bersama Rakyat Surabaya

Novri Susan, Pengamat Politik dari Unair Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Suhu politik di Kota Surabaya mulai menghangat. Penyebabnya muncul wacana dari kelompok-kelompok partai politik lain, menjadikan PDI Perjuangan (PDIP) ‘musuh bersama’ dalam kontestasi Pilwali Surabaya.

Munculnya wacana ‘pengeroyokan’ PDIP di Pilwali Surabaya ini, pengamat sosial politik FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Novri Susan menilai, PDIP merupakan penguasa tunggal di Balai Kota Surabaya, sejak 2002-sekarang. Era Walikota Bambang DH tahun 2002-2010, berlanjut era Walikota Tri Rismaharini 2010-2021.

“PDI Perjuangan dalam Pilwali Surabaya merupakan partai yang tiga kali berturut-turut meraih kepercayaan rakyat, dalam mengelola politik pemerintahan di ibukota Jawa Timur. Kepercayaan tersebut terbentuk oleh beberapa faktor yang tidak dimiliki partai lain. Makanya banyak partai yang tidak percaya diri dan panik, dan akhirnya memunculkan wacana mengeroyok PDIP,” ujar Novri kepada wartawan, Sabtu (18/1/2019).

Beberapa faktor yang dimaksud Novri itu yakni pertama; memiliki pendukung ideologis partai Soekarnois yang banyak dari kalangan akar rumput atau rakyat kecil, kedua; karena kinerja walikota dari kader PDI Perjuangan yang bersungguh-sungguh bekerja untuk Kota Surabaya, dan ketiga; soliditas mesin politik dalam memenangkan kandidat wali kota dari partai.

Tiga faktor penting PDI Perjuangan dalam potensi memenangkan Pilwali Surabaya tersebut, lanjut Novri, menciptakan reaksi kekhawatiran dan kepanikan pada kelompok-kelompok politik lain. Oleh karenanya, situasi mengepung dan mengeroyok PDI Perjuangan oleh partai-partai politik lain dalam kontestasi Pilwali Surabaya mungkin tidak terhindar.

“Situasi pengepungan dan pengeroyokan terhadap PDI Perjuangan adalah bentuk ketidaksukaan dan kejengkelan yang sudah ‘overload’. Mungkin mereka jengkel dari periode ke periode walikota Surabaya selalu dikuasai kader PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Melihat kondisi ini, Novri memberikan saran kepada PDI Perjuangan agar memilih berkoalisi dengan rakyat Surabaya. Maka calon walikota dari PDI Perjuangan perlu banyak turun bersama masyarakat, dan memiliki catatan historis bekerja sampai level bawah.

“Cawali Surabaya harus bekerja keras menyapa masyarakat Surabaya. Dulu Bu Risma saat diusung PDI Perjuangan juga banyak turun bersama masyarakat. Tidak ada sekat antara Bu Risma dengan masyarakat Surabaya. Cawali berikutnya juga harus sama,” pungkasnya. [tok/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar