Politik Pemerintahan

Muktamar PPP Jadi Jalan Keluar dari Krisis

Jember (beritajatim.com) – Muktamar Nasional Partai Persatuan Pembangunan pada Desember 2020 mendatang merupakan jalan keluar untuk keluar dari krisis yang sedang melanda partai berlogo kakbah tersebut.

“Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi yang dimiliki kader, semua stakeholder PPP. Karena PPP adalah aset bangsa ini, dan bahkan partai politik tertua yang telah melewati berbagai rezim dan era, tentu akan menjadikan muktamar ini sebagai upaya keluar dari krisis yang kami alami pada Pemilu 2019,” kata Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP Muhammad Arwani Thomafi, di sela-sela acara sosialisasi empat pilar kebangsaan, di Pondok Pesantren Darussholah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (28/10/2020).

PPP mengalami penurunan jumlah dukungan pada Pemilu 2019 dibandingkan 2014, dari 8.157.488 (6,53 persen) menjadi 6.323.147 suara (4,52 persen). “Aspirasi atau masukan yang disampaikan kepada kami, baik dari struktur partai, kader partai, atau masyarakat terkait dengan bagaimana format PPP masa depan, rumus PPP agar keluar dari krisis, sehingga lebih sukses pada 2024, tentu dengan sangat terbuka kami dengar dan musyawarahkan bersama di forum muktamar itu,” kata Thomafi.

Ada tiga hal mengemuka saat ini. “Pertama, historisitas PPP sebagai partai Islam, sebagai partai yang didirikan partai-partai politik Islam saat itu. Kesejarahan itu jadi modal kuat untuk kami perkuat, sehingga jadi kekuatan PPP untuk kembali kepada umat dan meraih simpati umat Islam,” kata Thomafi.

Kedua, lanjut Thomafi, adalah ide untuk mencoba menyinergikan modal kesejarahan dengan model politik akomodatif terhadap perkembangan zaman. “Misalnya bagaimana membuat partai ini lebih modern, lebih adaptif terhadap generasi muda. Dua warna ini akan kami coba gabungkan,” katanya.

“Ketiga, adalah mereka yang menganggap PPP sudah keluar dari sejarah sebagai partai Islam dan sepertinya ada sejarah yang membelenggu, dan mereka ingin keluar dari jebakan sejarah itu, sehingga ada usulan kami keluar saja dari sejarah itu, meninggalkan identitas lama. Tapi saya kira sebagian besar lebih melihat ide pertama dan kedua,” kata Thomafi. [wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar