Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Muktamar NU dan Nilai Strategis Jaringan Pondok

Nahdaltul Ulama (NU)

Surabaya (beritajatim.com) — Pengurus PWNU dan PCNU di Jatim meminta hajatan muktamar NU digelar pada bulan Nopember 2021 mendatang. Isu calon ketua umum menyeruak di antara banyak agenda lain yang akan dibicarakan di arena muktamar.

Realitas tersebut merupakan hal lazim terjadi di banyak organisasi kemasyarakatan (Ormas). Hal itu mengindikasikan dinamika organisasi yang mesti dihandling dan dikelola dengan baik, sehingga menjadi energi positif bagi kepentingan organisasi di masa depan.

Ada kalangan yang menyebut bahwa ormas Islam NU adalah pondok pesantren (Ponpes) besar. Sebab, ormas ini sebagian besar tokoh, elite, dan warga anggotanya adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia ponpes. Atau minimal pernah nyantri di satu ponpes.

Pendiri ormas NU adalah pemimpin pondok di masanya, seperti KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri dan pimpinan Pondok Tebuireng Jombang. KH Abdul Wahab Chasbullah pimpinan Pondok Tambakberas Jombang. KH Bisri Syansuri merupakan pendiri dan pimpinan Pondok Denanyar Jombang, dan banyak kiai NU lainnya.

Kepemimpinan puncak organisasi NU (baca: ketua umum) juga tokoh yang berlatar belakang pondok dan atau pernah nyantri di pondok. Seperti KH Idham Khalid lama nyantri di Pondok Modern Gontor Ponorogo, KH Abdurrahman Wahid pernah nyantri di Pondok Tegalrerjo Magelang dan Pondok Krapyak Yogyakarta, KH Hasyim Muzadi adalah santri Pondok Al Anwar Sarang Rembang dan Pondok Modern Gontor. Demikian pula Dr KH Said Aqil Siradj pernah nyanti di Pondok Lirboyo Kediri sebelum menempuh pendidikan S-3 (doktoral) di sebuah universitas di Arab Saudi.

Jaringan pondok itulah yang membentuk dan menjadi kekuatan NU dalam perspektif sosiologis dan teologis. Nilai strategis pondok dalam konteks dinamika organisasi adalah fenomena sosiologis bersifat genuine yang tak mungkin dinafikan dari NU sejak kelahirannya sampai sekarang. Karena itu, siapa yang bakal tampil di kepemimpinan NU selalu diperhatikan track record pendidikannya, terutama di pondok.

Secara faktual, khususnya di Jatim, Jateng, dan DI Yogyakarta, ada sejumlah pondok yang dinilai sebagai sumber penting kepemimpinan NU di semua level. Dari tingkat anak cabang, cabang, wilayah, dan pengurus besar (pusat).

Misalnya, di Jatim sejumlah pondok yang dinilai sebagai sumber penting kepemimpinan NU, di antaranya Pondok Tebuireng Jombang, Pondok Tambakberas Jombang, Pondok Denanyar Jombang, Pondok Darul Ulum Jombang, Pondok Lirboyo Kediri, Pondok Ploso Kediri, dan lainnya.

Pondok lain di Jatim yang dinilai sebagai sumber penting kepemimpinan NU adalah Pondok Langitan Tuban, Pondok Syaichona Cholil Bangkalan Madura, Pondok Al Amien Prenduan Madura, Pondok An Nuqoyyah Guluk-Guluk Sumenep, Pondok Sidogiri Pasuruan, Pondok Salafiyah Pasuruan, Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, Pondok Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Pondok Genggong Probolinggo, Pondok Mambaus Sholihin Gresik, Pondok Al Hikam Malang dan Depok, Pondok An Nur Bululawang Malang, dan pondok lainnya.

Sedang di Jateng dan DI Yogyakarta, sejumlah pondok yang menjadi sumber penting kepemimpinan NU, di antaranya Pondok Al Anwar Sarang Rembang, Pondok Roudhlatut Tholibin Rembang, Pondok Maslakul Huda Pati, Pondok Kaliwungu Kendal pimpinan KH Dimyati Rois, Pondok Tegalrejo Magelang, Pondok Krapyak Yogyakarta, dan pondok lainnya.

Jaringan pondok inilah yang menjadi basis sosiologis NU dalam perspektif jam’iyah dan jamaah. Artinya, di level jam’iyah , pondok merupakan pintu penting bagi munculnya calon pemimpin bagi NU di semua tingkatan.

Di tingkat jamaah, massa pondok yang besar memiliki nilai strategis dalam perspektif teologis utamanya dalam membumikan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), ekonomi, dan politik termasuk politik elektoral, di samping politik kebangsaan dan politik kenegaraan. Bukan semata-mata politik praktis.

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU sekarang, telah dua periode memegang tampuk kepemimpinan sebagai orang pertama di dewan eksekutif PBNU. Pengalaman empirik keorganisasian serupa pernah dirasakan Gus Dur dan KH Hasyim Muzadi.

Bahkan, Gus Dur tiga kali terpilih sebagai ketua umum PBNU, yakni di muktamar di Pondok Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, muktamar di Pondok Krapyak Yogyakarta, dan muktamar di Pondok Cipasung Tasikmalaya Jabar. Kiai Hasyim Muzadi terpilih di muktamar Pondok Lirboyo Kediri dan muktamar di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jateng. Kiai Said pertama kali terpilih di muktamar di Kota Makassar dan yang kedua di muktamar di Kota Jombang Jatim.

Siapa pun calon ketua umum NU 5 tahun mendatang, tampaknya kriteria track record, latar belakang pendidikan, dan kiprah dalam pengembangan pondok merupakan realitas yang tak mungkin dinafikan. Hal itu menjadi fakta sosiologis genuine NU yang membedakan dengan ormas Islam lainnya. Jika kemudian dikatakan bahwa NU adalah pondok besar, maka pelabelan tersebut menemukan justifikasinya. [air/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar