Politik Pemerintahan

Moderasi Agama Jadi Formula Respon Dinamika Zaman

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

Jakarta (beritajatim.com) – Menag Lukman Hakim Saifuddin menilai, moderasi beragama menjadi formula ampuh dalam merespon dinamika zaman di tengah maraknya intoleransi, ektremisme dan fanatisme berlebihan yang bisa mencabik kerukunan umat beragama di Indonesia. Menag mengajak kaum millennial untuk memahami moderasi beragama.

“Kalau melihat agama secara kelembagaan, pastilah kita akan melihat ragam perbedaan. Tapi, agama juga bisa dan mestinya dilihat dari sisi dalam, yaitu: esensi dan subtansinya pada nilai-nilai universal,” ujar Menag Lukman Hakim, seperti dilansir laman resmi Kemenag RI.

“Silahkan mengamalkan ajaran agama, namun jangan menyeragamkannya. Agama butuh wilayah yang damai. Kehidupan yang damai, butuh spritualitas nilai agama,” sambung Menag.

Menag Lukman menambahkan, Kemenag sejak tiga tahun lalu gencar mengusung moderasi beragama. Agama dikatakan Menag pastilah moderat. Agama yang datang dari Tuhan adalah untuk kemanusian.

“Cara kita mengamalkan ajaran agama, sebagian kita boleh jadi terjebak pada pengamalan yang berlebihan. Di sinilah peran moderasi beragama untuk mengajak kutub-kutub yang berlebihanan kembali ke tengah,” ujar Menag.

Hasil kajian Kemenag, lanjutnya, maraknya intoleransi karena pengamalan ajaran agama baru sebatas penekanan formalitas, belum menyentuh nilai-nilai esensial. Nilai itu misalnya. agama tidak semata untuk Tuhan, namun juga untuk manusia itu sendiri.

“Berindonesia hakikatnya beragama dan beragama hakikatnya berindonesia. Agama apapun pasti menekankan pada nasionalisme dan cinta tanah air,” tandasnya.

Menag Lukman menegarkan bahwa setiap umat beragama di Indonesia mestinya harus memiliki kesadaran bahwa mengamalkan ajaran agama hakikatnya sedang menjaga keindonesian. Karena Indonesia merupakan negara religius dan agamis, bukan sekuler.

“Kalau saya mengamalkan ajaran agama yang saya anut itu sesunguhnya saya sedang menjaga Indonesia agar tetap agamis. Sebaliknya, jika saya mengamalkan kewajiban sebagai warna negara Indonesia dan patuh pada ketentuan itu sesungguhnya saya mengamalkan ajaran agama,” tutup Menag. [but]

Sumber: Kemenag RI





Apa Reaksi Anda?

Komentar