Politik Pemerintahan

Millenials Surabaya Merasa Terpinggirkan di Pilwali Surabaya 2020

Surabaya (beritajatim.com) – Ceruk pemilih anak muda atau milenial nampaknya masih seksi untuk didekati. Termasuk pula dalam kontestasi Pilwali Kota Surabaya. Hal ini yang menjadi konsen tersendiri bagi Machfud Arifin dan timnya.

Mantan Kapolda Jatim yang kini maju sebagai Bakal Calon Walikota Surabaya itu, berusaha menggaet ceruk pemilih milenial dengan menggelar acara ‘Cangkruk Bareng Milenial’ dengan tema ‘What’s Next Surabaya’, pada Selasa 4 Agustus 2020 malam.

Dalam cangkrukan ini, para milenial diajak untuk menyampaikan aspirasi mereka masing-masing jika Machfud Arifin terpilih sebagai Wali Kota Surabaya.

Setidaknya ratusan milenial yang hadir mayoritas bertanya apa yang akan mereka dapatkan bila Machfud terpilih sebagai wali kota. Karena selama ini, mereka merasa bahwa kaum milenial cenderung ‘dipinggirkan’ oleh birokrasi pemerintah. Apalagi banyak dari mereka merupakan pegiat ekonomi kekinian alias Start-Up digital.

Mereka curhat ke tim pemenangan Machfud Arifin, bagaimana mereka bisa survive di Kota Surabaya yang masih belum ramah dengan ekonomi digital. Mereka merasa Surabaya belum se-garang Jakarta dalam merangkul dan menjadi tempat berkembangnya ekonomi digital. Padahal di kota Surabaya, tak sedikit pegiat start-up yang merintis usahanya. “Pemkot masih belum ada ke-proaktifan kepada start-up ini. Sehingga kami banyak yang strugling merintis usaha ini,” kata mereka.

Dalam acara tersebut, hadir pula Ketua DPD Partai Golkar Surabaya Arif Fathoni, Ketua Tim Pemenangan Machfud Arifin Miratul Mukminin, dan juga Founder dan CEO Kebab Baba Rafi Hendy Setiono.

Atas curhat dan wadul yang disampaikan oleh para milenial itu, penggagas acara yang sekaligus Direktur Kampanye Milenial tim MA, Juliana Evawati mengatakan, acara milenia cangkruk bareng merupakan inisiasi Machfud untuk memberi ruang kepada milenial. Acara ini sengaja dikemas santai agar mereka bisa menyampaikan aspirasinya.

“Ini acara dan ruangnya milenial sekali. Mereka bisa menyampaikan aspirasinya. Ada kawan-kawan startup juga yang kurang mendapat perhatian selama ini,” kata Juliana yang akrab dipanggil Jeje ini.

Jeje menilai selama ini startup milenial belum mendapat payung hukum di Perda. Karenanya, para milenial menuntut adanya spesifikasi perda bagi mereka yang akan memulai berbisnis startup. “Kan memang selama ini adanya Perda untuk usaha mikro. Jadi mereka ingin ada Perda yang spesifikasi untuk startup,” jelasnya. [ifw/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar