Politik Pemerintahan

Metode Baru Debat Pilpres Dianggap Kurang Greget

Surabaya (beritajatim.com) – Model baru debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2019 menuai banyak polemik, karena kini Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerapkan dua metode debat. Yakni debat dengan pertanyaan terbuka dan tertutup.

Untuk pertanyaan terbuka, masing-masing pasangan calon (paslon) akan mendapat bocoran soal dari tim panelis dalam jangka waktu satu minggu sebelum pelaksanaan debat. Sedangkan untuk pertanyaan tertutup, akan menjadi panggung bagi paslon untuk saling lempar pertanyaan yang lazim diterapkan sebelumnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Suko Widodo mengatakan jika metode baru ini akan mengurangi ruh dari debat itu sendiri. “Dengan model pertanyaan terbuka, tampaknya ada kesan kurang “spontan” yang bisa mengurangi greget debat,” katanya saat dihubungi, Selasa (8/1/2019).

Ia menjelaskan, greget dalam debat karena seakan-akan paslon telah mendapat kunci jawaban. Padahal seharusnya, paslon secara spontan harus menjawab dengan gagasan yang terlintas saat debat berlangsung. Sehingga, masyarakat akan mengetahui arah dari masing-masing paslon.

“Debat adalah aktivitas komunikasi yang tujuan akhirnya mencari pengaruh dan dukungan audience. Banyak model debat, tergantung dari pilihan penyelenggara. Debat merupakan sarana untuk “menguji” kualitas peserta. Mulai dari pesan visinya, dan argumentasi yang mendasarinya, serta mempertahankan kualitas gagasannya,” jelas pria yang akrab disapa Suko itu.

Ia pun menyayangkan langkah yang diambil oleh penyelenggara itu. Seharusnya, kata Suko, KPU cukup memberikan tema saja tanpa memberikan daftar pertanyaan. [ifw/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar