Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Menteri BUMN Tak Mau Pasar Indonesia Dijadikan Pertumbuhan Ekonomi Bangsa Asing

Jember (beritajatim.com) – Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menginginkan adanya hilirisasi produk di Indonesia. Dengan demikian Indonesia tak hanya mengekspor bahan mentah dan hanya menjadi pasar bagi produk asing.

Erick menjelaskan tiga tantangan perubahan zaman yang dihadapi bangsa Indonesia, yakni pasar globalisasi, perubahan teknologi yang memunculkan disrupsi, dan ketahanan kesehatan yang menghadirkan musuh tak kasat mata.

“Tidak mungkin perubahan yang terjadi ini kita tidak lakukan konsolidasi, kita tidak mau market kita dijadikan pertumbuhan bangsa asing. Kita tidak anti asing, tapi sudah seyogyanya market kita untuk pertumbuhan bangsa kita,” kata Erick, dalam acara silaturahim dengan Laskar Sholawat Nusantara, di Aula PT Perkebunan Nusantara XII, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (20/11/2021).


Menurut Erick, sumber daya alam Indonesia harus dipakai untuk pertumbuhan bangsa Indonesia. “Karena itu, kemarin Bapak Presiden juga sudah bicara bahwa kita harus menjadi sentra dunia, bagaimana pertumbuhan ekonomi dari Indonesia. Semua negara perlu nikel, perlu kelapa sawit, perlu lain-lain. Saya melihat tembakau, dikirim ke luar negeri. Tidak apa-apa. Yang kita mau hilirisasinya sebagian di Indonesia, bukan hanya mengirim bahan baku,” katanya.

“Kita tidak mau tenaga kerja kita ke depan tidak mendapat kesempatan. Kita tidak mau tidak mendapat kesempatan berusaha. Kita dihadapkan pada bonus demografi luar biasa: tambahan 50 juta anak muda Indonesia. Bonus demografi kalau tidak kita jaga dengan baik, tidak kita rencanakan dengan baik, akhirnya ini menjadi impact yang justru negatif buat kita,” kata Erick.

Kementerian BUMN memparkarsai platform Padi UMKM (Pasar Digital Usaha Mikro Kecil Menengah). Platform ini mempertemukan badan usaha milik negara dengan UMKM, untuk mendorong percepatan, optimalisasi, dan efisiensi transaksi belanja BUMN pada UMKM.

Pengadaan barang dan jasa BUMN di bawah Rp 400 juta harus dilakukan UMKM. “Alhamdulillah, Padi UMKM baru diluncurkan sudah mencakup 10.400 UMKM. Ada 120 ribu transaksi senilai Rp 12,4 triliun. Kita kerjasamakan Padi UMKM terbuka dengan seluruh pihak,” kata Erick.

Ada juga program Permodalan Nasional Madani Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) untuk ibu rumah tangga yang memberikan pinjaman Rp 1-4 juta tanpa agunan. “Ketika krisis Covid, nasabahnya tumbuh 5,2 juta orang. Kalau satu ibu rumah tangga memekerjakan satu pegawai, artinya ibu-ibu Mekaar di bawah PNM membuka 5,2 juta lapangan pekerjaan dan tingkat kemacetannya hanya 0,13 persen,” kata Erick. [wir/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar