Politik Pemerintahan

Memasuki Musim Hujan, Kabupaten Mojokerto Waspada Bencana Hidrometrologi

Peta rawan bencana Kabupaten Mojokerto.

Mojokerto (beritajatim.com) – Berdasarkan surat Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Juanda, awal musim hujan terjadi bulan Oktober-November 2020. Pantauan dari satelit USA, Kapan, China dan Indonesia, maka ada La Nina Moderat mempunyai dampak hujan meningkat dan berdampak bencana Hidrometrologi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini mengatakan, awan hujan meningkat 40 persen dari tahun sebelumnya. “Musim hujan memicu terjadinya Hidrometrologi tanah longsor, banjir, angin kencang,” ungkapnya, Sabtu (31/10/2020).

Masih kata Zaini, bencana pancaroba pun harus diwaspadai. Seperti angin puting beliung yang ditambah dengan lingkungan tak terawat. Sehingga masyarakat dihimbau waspada, ini lantaran beberapa wilayah Kabupaten Mojokerto dengan topografi pengunungan yang rawan terhadap bencana longsor dan banjir bandang.


“Seperti Kecamatan Trawas, Pacet, Gondang, Jatirejo dan Ngoro. Selama musim kemarau 2020, di Kabupaten Mojokerto terjadi kebakaran hutan dan lahan seluas 123,5 hektar sehingga berpotensi bencana banjir dan longsor saat musim hujan karena terbakarnya vegetasi hutan menyebabkan akar pohon tidak cukup kuat menahan curah hujan,” katanya.

Zaini menjelaskan, pohon yang sudah tua juga berpotensi tumbang ketika diterjang angin. Sementara sungai yang ditumbuhi semak atau ditimbun sampah pada saat kemarau berpotensi meluap dan menimbulkan bencana banjir saat musim hujan. Sehingga masyarakat di Kabupaten Mojokerto dihimbau untuk waspada.

“Melalui Surat Himbauan, Bupati Mojokerto menghimbau kepada OPD/Instansi terkait/Camat dan seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim penghujan. Koordinasi, melakukan mitigasi, jika terjadi hujan selama 2-3 jam tanpa henti yang berada di daerah rawan agar waspada,” jelasnya. [tin/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar