Politik Pemerintahan

Media Daring Jadi Kunci Kampanye Pilkada

Jember (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 membongkar semua kebiasaan lama dan memaksa orang beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih membatasi ruang gerak. Salah satu yang terdampak adalah model kampanye politik dalam pemilihan kepala daerah tahun ini.

“Jumlah massa dalam ruangan (indoor) maksimal 50 orang. Kalau di luar ruangan maksimal 100 orang,” kata Dessi Anggraeni, salah satu komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, Jawa Timur. KPU Jember menyosialisasikan hal ini kepada seluruh peserta pemilihan kepala daerah agar dipatuhi dan bekerjasama dengan Badan Pengawas Pemilu.

Hal ini disadari oleh para kandidat bupati dan wakil bupati. Kampanye langsung dari rumah ke rumah menjadi salah satu opsi utama. “Kami dari awal kami maju sudah membiasakan diri adapatif dengan situasi pandemi. Kami kampanye door to door, dari jalan ke jalan,” kata Abdus Salam Alamsyah, kandidat bupati yang diusung koalisi enam partai.

Koordinator Daerah Pemilihan Jember- Lumajang, Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jatim Reno Zulkarnaen mengatakan, kampanye dari rumah ke rumah cukup melibatkan struktur pengurus anak cabang dan ranting partai. Para kader Demokrat bertugas menyosialisasikan nama calon bupati Hendy Siswanto dan calon wakil bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman kepada masyarakat. “Ini untuk Jember yang lebih baik,” katanya.

Faida, kandidat bupati petahana mengatakan, pandemi adalah tantangan bersama. “Baru kali ini ada pilkada dalam situasi pandemi. Kami selalu berkoordinasi untuk mengikuti panduan-panduan dalam setiap langkah tahapan pilkada,” katanya.

Faida akan selalu mengikuti protokol Covid. “Karena keamanan rakyat adalah yang paling utama dan paling penting dalam penyelenggaraan pilkada. Kita ingin pilkada sukses, rakyat selamat,” katanya. Ia menilai pengumpulan massa dalam jumlah besar memunculkan risiko.

Namun belum lagi kampanye dimulai, Faida sudah mendapat teguran dari Kementerian Dalam Negeri, karena hadirnya ribuan orang yang mengiringi pendaftarannya ke kantor Komisi Pemilihan Umum Jember, Minggu (6/9/2020). Mengenai hal ini, Faida mengaku sudah mengimbau semua pendukungnya untuk tak hadir ke KPU dan memberikan dukungan dari rumah. Ia juga sudah membuka live streaming di media sosial saat pendaftaran.

Kekuatan internet disadari Salam. Dia ke depan ingin lebih massif berkampanye dengan memanfaatkan media massa dalam jaringan. “Pandemi mengajak kita adaptif dengan era digitalisasi, bagaimana kita memanfaatkan kreativitas kita dengan menggunakan produk-produk teknologi informasi,” katanya.

Muhammad Iqbal, dosen komunikasi politik Universitas Jember, mengingatkan, kampanye tatap muka dengan pengumpulan massa walau dibatasi protokol kesehatan berpotensi diabaikan oleh masyarakat. “Di jalan-jalan saja sekarang banyak yang tidak pakai masker dan abai terhadap imbauan jaga jarak,” katanya.

Iqbal sepakat jika kampanye dari rumah ke rumah dilakukan, karena tidak ada kerumunan. “Tapi kampanye door to door ini harus ada plusnya: plus human touching atau sentuhan kemanusiaan. Tim sukses mendatangi setiap rumah, mendata, berinteraksi dengan warga, mengenalkan pasangan calon dan menginformasikan materi program yang ditawarkan,” katanya.

Iqbal juga sepakat, media sosial akan punya peran besar dalam kampanye kali ini. “Tapi yang jauh lebih punya peran adalah kesiapan tim atau kandidat untuk membangun infrastruktur jaringan hotspot wifi hingga tingkat dusun,” katanya.

Menurut Iqbal, konsolidasi tatap muka dan kampanye melalui media dalam jaringan memang sama-sama harus dijalankan oleh calon bupati dan wakil bupati. “Namun materi kampanye jauh efektif mengena jika dibuat dalam bentuk daring. Daring ini bisa menggunakan platform WA group, telegram, atau channel-channel video conference,” katanya.

“Dengan kata lain, tim sukses harus punya tim desain grafis, infografis, tim multimedia video, atau foto yang isinya betul-betul dikemas dalam kalimat-kalimat kampanye yang sangat persuasif dan efektif, yang kemudian disebar,” kata Iqbal.

Tim pemenangan calon bupati dan wabup harus membuat grup-grup media sosial hingga tingkat desa, dusun, bahkan rukun tetangga. “Video conference melalui channel youtube, Instagram live harus diperbanyak,” kata Iqbal. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar