Politik Pemerintahan

Mayoritas Ikatan Alumni Annuqoyah Kapok Dukung Faida

Jember (beritajatim.com) – Mayoritas anggota Ikatan Alumni Annuqoyah (IAA) tak mau lagi mendukung Bupati Faida dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka berharap ada perubahan di Jember.

IAA adalah elemen pendukung utama pasangan calon Faida-Abdul Muqiet Arief dalam pemilihan kepala daerah Jember lima tahun lalu. Berkat jejaring IAA, pasangan tersebut berhasil menang telak di Kecamatan Silo yang merupakan salah satu kecamatan dengan populasi pemilih padat di Jember. Kemenangan di Silo ini membuat Faida-Muqiet menang atas lawan mereka, Sugiarto-Dwi Koryanto.

Ketua IAA Karesidenan Besuki Muhammad Muslim mengatakan, pihaknya belum menentukan sikap mendukung siapapun. “Cuma insya Allah mayoritas dari alumni mengharapkan ada perubahan di Jember. Kami berharap ada pemimpin yang lebih baik,” katanya, Selasa (15/9/2020).

Anggota IAA di Eks Karesidenan Besuki berjumlah lima ribu orang, tiga ribu orang di antaranya berada di Jember. Sebagian dari mereka sudah mendirikan 33 pesantren dan madrasah sendiri. Mereka menunggu keputusan pengasuh Pondok Pesantren Annuqoyah untuk menentukan pilihan politik dalam pilkada Jember.

“Kalau diizinkan secara terbuka, saya akan menyatakan dukungan terbuka kepada salah satu pasangan calon. Kalau tidak, saya akan minta petunjuk dari kiai (Abdul A’la),” kata Muslim.

IAA sendiri memiliki kriteria bupati Jember. Menurut Muslim, pemimpin harus memberikan kemanfaatan kepada umat tanpa terjebak dalam favoritisme. “Dia juga harus mampu menjalankan birokrasi dengan baik, dan yang terpenting dari semua itu, karena Jember kota santri, saya berharap ada pemimpin yang peduli terhadap pondok pesantren,” katanya.

“Siapapun yang nantinya akan kami dukung harus menandatangani kontrak politik dengan IAA untuk kepedulian terhadap pesantren. Kira-kira pesantren di Jember mau diapakan. Jumlah pesantren di Jember lebih dari enam ratus pesantren. Rata-rata santrinya bervariasi, ada yang di atas seratus orang dan ada yang di atas seribu orang,” kata Muslim.

“Mayoritas generasi muda di Jember menjalani pendidikan pesantren. Jadi kalau ada bupati yang tidak peduli terhadap pendidikan pesantren, sama saja membiarkan pendidikan generasi muda untuk masa yang akan datang,” kata Muslim. [wir/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar