Politik Pemerintahan

Masalah ini Picu PNS di Ponorogo Bercerai

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Foto : Ilustrasi/dok.beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) РKecukupan ekonomi di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) tidak selalu membuat kehidupan keluarganya langgeng. Ada saja alasan yang membuat biduk rumah tangga di kalangan  PNS itu harus berakhir di tengah jalan.

“Kasus perceraian PNS di setiap tahun ini selalu ada,” kata Suko Widodo, Kabid Pembinaan Penilaian Kinerja dan Kesejahteraan ASN Badan Kepegawaian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Ponorogo, Sabtu (30/5/2020).

Suko mengungkapkan hingga bulan Mei tahun ini, tercatat ada 12 PNS yang mengajukan permohonan izin untuk cerai. Dari jumlah tersebut, sudah ada 4 orang yang sudah disetujui. Terdiri dari 2 PNS laki-laki dan 2 PNS perempuan. Dan satu dari empat orang tersebut keputusannya akhirnya rujuk kembali.

“Sementara sisanya masih dalam proses mediasi,” katanya.

Cerai, Foto: Ilustrasi

Suko mengakui jika fenomena perceraian di kalangan PNS di bumi reyog ini cukup banyak. BKPSDM, kata Suko berusaha untuk menekan seminimal mungkin perceraian itu terjadi. Namun karena ini merupakan persoalan keluarga, ya tidak bisa ikut campur lebih dalam. Pihaknya sebatas memberikan pembinaan, setelah sebelumnya juga dilakukan pembinaan di tingkat satuan kerja (satker) masing-masing.

Ketidakharmonisan dan perbedaan prinsip berumah tangga menjadi alasan yang sering diutarakan jika seorang PNS ingin berpisah. 12 orang yang mengajukan permohonan cerai, tidak ada mengarah ke perselingkuhan sebagai alasannya. Selain itu biasanya di tingkat pembinaan, kasus perselingkuhan ini tidak bisa terbukti. Pun pisah karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga tidak ada.

“Biasanya dipicu oleh ucapan yang bisa membikin salah satu pasangan sakit hati,¬† atau perbedaan prinsip yang menimbulkan mereka ingin berpisah. Tapi kalau kekerasan secara fisik gitu tidak ada,
” pungkasnya. (end/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar