Politik Pemerintahan

Manuskrip Belum Tersentuh, Lesbumi Paciran Gelar Tadarus Budaya

Lamongan (beritajatim.com) – Pengurus Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) MWC NU Paciran Lamongan, menggelar acara tadarus budaya bertema “Menyelami Ajaran Sunan Drajat dalam Manuskrip Khatrah” di Pendopo Ndalem Keluarga Sunan Drajat, Desa Drajat Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, Selasa (27/04/2021), malam.

Acara tersebut dimulai selepas salat tarawih dan diawali dengan pembacaan tahlil atas wafatnya Ketua Lesbumi PBNU, K. Ng. H. Agus Sunyoto, dilanjut penampilan dari Teater Serulink INSUD Paciran, dan Pembacaan puisi oleh Mahrus Ali dan Maidi Abe selaku sastrawan Lamongan.

Tadarus budaya yang menghadirkan Kolektor Manuskrip, Drs.H. Rahmat Dasy, S.Pd.I dan sejarawan yang juga dari keluarga Trah Sunan Drajat, R.H. Imam Muhlisin, M.Pd.I, sebagai narasumber ini, berlangsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Masih banyak manuskrip yang belum tersentuh dan dikaji lebih mendalam dari ajaran-ajaran Raden Qosim (Sunan Drajat),” ungkap Rahmat Dasy dalam dialognya.

Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menjelaskan mengenai Khatrah yang berkaitan erat dengan manuskrip tersebut. “Khatrah berarti krentek-e ati (basa Jawa) memiliki tafsir yang begitu fundamental mengenai ikhwal ketauhidan. Empat nilai yang terkandung dalam salah satu manuskrip itu adalah Malakiyun, Aqliyun, Nafsaniyun dan Syaithoniyun,” jelasnya.

Rahmat menambahkan, bahwa pelbagai persoalan ketauhidan diejahwantahkan oleh Kanjeng Sunan Drajat melalui tembang-tembang, sehingga memudahkan masyarakat untuk mengenal Islam dan mendalaminya. Bahkan, tembang tersebut juga dikenal oleh masyarakat hingga masa sekarang.

Rahmat juga menukil, dalam dialognya, beberapa ajaran Sunan Drajat, diantaranya “Meper Hardaning Pancadriya, Heneng–Henung-Hening, Mulyo guno Panca Waktu” yang berarti bahwa keajegan dalam lelaku hidup sejatinya pinutur nanging mingkem, pelajaran luhur yang tersembunyi.

Sementara itu, R. Imam, selaku narasumber kedua, menyampaikan tentang metode dakwah yang selama ini dilakukan oleh Sunan Drajat dalam penyebaran Islam di masyarakat sekitar, hingga menjadi epicentrum kebudayaan Islam di wilayah pesisir Lamongan. “Kawasan pesisir Lamongan bisa menjadi epicentrum kebudayaan Islam ini, karena peran besar Sunan Drajat dan metode dakwah yang mudah diterima oleh masyarakatnya,” paparnya.

Meski acara tadarus budaya ini berlangsung hingga larut malam, tapi peserta dalam acara ini begitu khusyu’ mendengarkan paparan dari para narasumber hingga akhir acara. Turut hadir dalam acara tersebut, Ketua trah keluarga besar Sunan Drajat, R. Zainul Aziz, Penggiat budaya, dan para aktifis muda Lamongan.

Ketua Lesbumi MWC NU Paciran, Luqman Hakim, berharap kegiatan tadarus budaya nantinya akan lebih semarak dan menggugah kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda Lamongan tentang pentingnya memahami sejarah. “Dengan adanya acara seperti ini, paling tidak kita sebagai generasi muda bisa tahu, tentang pitutur-pitutur luhur yang ada dalam manuskrip-manuskrip Raden Qosim (Sunan Drajat),” kata Luqman. [kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar