Politik Pemerintahan

Makna Pertemuan Khofifah-Kang Emil, Pengamat: Tone Publik Cukup Positif

Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa baru-baru ini bertemu Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Kang Emil) di Bandung.

Khofifah secara khusus meminta kepada Kang Emil yang dikenal seorang arsitek untuk mendesain masjid yang ada di Islamic Centre Jawa Timur.

Dia mengatakan, banyak hasil desain masjid dari Ridwan Kamil yang memiliki arsitektur indah. Di antara yang pernah disaksikan adalah keindahan arsitektur dari Masjid Agung di Padang dan masjid di dekat Pantai Makasar yang sangat indah.

Dalam silaturrahmi yang berlangsung hangat itu, Gubernur Khofifah mengaku kedatangannya ke Bandung adalah untuk menghadiri stadium general sekaligus menerima tanda penghormatan Kartika Pamong Praja Madya dari IPDN Jatinangor. Selanjutnya, silaturrahim dengan Muslimat NU se-Jawa Barat yang dilaksanakan di Gedung Sate.

Menanggapi permintaan khusus dari Khofifah, Kang Emil menyatakan kesanggupannya akan mendesain masjid yang ada di Islamic Centre Surabaya.

Pihaknya menyatakan, membangun atau mengarsiteki sebuah masjid merupakan salah satu bentuk dakwah sekaligus ladang amal. “Saya berjanji untuk Jawa Timur kami desainkan yang paling keren,” tutur Kang Emil.

Apa kata pengamat politik yang juga peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam terkait pertemuan kedua gubernur itu?

“Jabar dan Jatim itu modal yang sangat signifikan dalam politik elektoral Indonesia. Menguasai Jabar 48 juta pemilih dan Jatim 42 juta pemilih itu sudah punya modal 90 juta, separuh pemilih Indonesia. Jadi, selalu strategis jika dilihat dari perspektif demografis. Kendati ada kendala dari faktor sejarah, tetapi politik juga seni kemungkinan, semua bisa dan mungkin terjadi. Jadi, tidak salah jika keduanya melakukan penjajakan dan komunikasi lebih intens,” kata Surokim kepada beritajatim.com, Kamis (22/4/2021).

Surokim Abdussalam

Ketika incumbent Jokowi tidak lagi bisa mencalonkan pada Pilpres 2024, menurut dia, peluang para gubernur naik kelas untuk napak tilas jalan Jokowi juga kian besar peluangnya. Apalagi, jika gubernur-gubernur itu berhasil mendapatkan kepuasan publik. “Saya pikir jalannya akan kian terbuka. Penjajakan yang dilakukan Bu Khofifah dan Kang Emil menurut saya sangat strategis jika dibaca untuk 2024,” ujarnya.

Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini menjelaskan, kombinasi pasangan laki-laki dan perempuan akan kompetitif, karena pemilih perempuan tumbuh signifikan di Indonesia.

“Sesungguhnya pemilih loyal di dalam kontestasi elektoral Indonesia itu adalah pemilih perempuan. Di sanalah salah satu kekuatan dan daya saing Bu Khofifah, kendati hingga kini masih belum berpartai kembali. Sebagai Ketum Muslimat NU yang punya basis pemilih loyal dan fanatis, saya pikir beliau tetap harus diperhitungkan untuk 2024,” imbuhnya.

Dia mengakui, hanya saja yang agak rumit adalah penentuan posisi cagub dan cawagubnya, karena baik Khofifah maupun Kang Emil angka elektabilitas keduanya tidak terpaut jauh dan hampir selalu berhimpitan.

“Tapi 2024 kan masih jauh. Saya pikir pertemuan keduanya tetap mewarnai konstelasi politik 2024 dan tidak sekadar menjadi pertemuan biasa. Itu pertemuan strategis untuk penjajakan 2024. Bu Khofifah memberi kepercayaan kepada Kang Emil untuk mendesain masjid di kawasan Islamic Center Surabaya itu sangat simbolik,” jelasnya.

“Paling tidak untuk membuka komunikasi di antara keduanya untuk bisa mendapat respon positif dari publik. Dan, sejauh menurut pengamatan saya hingga saat ini, strategi dan komunikasi itu berhasil dan tone opini publik cukup positif kepada keduanya,” pungkasnya. [tok/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar