Politik Pemerintahan

Mahfud MD: Pilih Pemimpin yang Baik

Surabaya (beritajatim.com) – Gerakan Suluh Kebangsaan yang didukung oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) hari ini mengadakan Jelajah Kebangsaan Merak-Banyuwangi yang ke VIII di Stasiun Gubeng Surabaya, Kamis (21/2/2019).

Kegiatan yang berkonsentrasi pada upaya mempererat rasa kebangsaan dan kebersamaan ini diprakarsai oleh Prof  Dr Moh Mahfud MD.

Kali ini Prof Mahfud bersama Ir. Budi Karya, Prof. Dr. Samsul Arifin, Alissa Wahid, Prof. K.H. Abdul A’la, K.H. Agoes Ali Masyhuri, dan pembaca puisi K.H. Zawawi Imron berada di stasiun Gubeng.

Para pakar di bidangnya ini hadir untuk memberikan pandangan dalam acara yang bertema ‘Meneladani Patriotisme Arek Surabaya Bagi Indonesia Emas 2045’. Mahfud mengatakan masih pentingnya semangat patriotisme ini untuk dijaga, meskipun perang sudah tidak ada lagi.

“Sekarang lawan kita yang seperti itu sudah tidak ada, perang kita sekarang bukan perang konvensional tapi perang diplomasi perang pemikiran perang perdagangan perang melawan hoaks,” tuturnya.

Selain itu ia juga menambahkan bahwa meneladani patriotisme juga upaya kita sebagai rakyat dalam menentukan pemimpin. Karena saat ini perang diplomasi yang harus diperjuangkan kepala negaranya. Sehingga Indonesia tidak mudah diinjak-injak dihadapan dunia.

“Perang cara kita saat ini adalah memilih pemimpin yang benar dalam pemilu ini karena pemimpin yang benar dapat melindungi kedaulatan negara nya. Pemilu tidak pernah melahirkan pemimpin yang ideal, tapi yang telah disesuaikan konstitusi. Jika kita punya calon pemimpin 2, jika dua duanya baik pilih yang paling baik jika dua duanya jelek pilih yang jeleknya lebih sedikit,” tambahnya.

Budi Karya, selaku Menteri Perhubungan RI pun mengatakan bahwa secara umum nilai-nilai kebangsaan harus dijaga sebagai suatu negara NKRI yang sudah utuh.

‘Sekarang ini adalah kontestasi pilpres dan pilkada, nah ini ada satu gesekan-gesekan. Saya pikir konsistensi untuk menjaga kebangsaan ini tetap ada dan harus dilakukan,” ujarnya.

Begitu pula Alissa Wahid menganggap bahwa masyarakat tidak seharusnya terperangah terhadap isu negatif apapun, seperti Hoaks, penebar kebencian gak.

Janganlah kita mengaplikasikan patriotisme tapi golput, atau patriotisme tapi bingung memilih pemimpin karena isu isu mayorital atau pun kabar Hoaks.

“Patriotisme berarti tidak lagi melihat dan memilih kepala negaranya dengan berdemo dan saling berantem, hanya karena masalah kecil mereka. Untuk itu kita harus bisa menfilter dirimu dari segala Hoaks dan kebencian, jangan mau diadu domba,” tutur Alissa.[adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar