Politik Pemerintahan

Luruskan Prabowo, Mantan Dankormar: Pertahanan Indonesia Membanggakan

Surabaya (beritajatim.com) – Mantan Komandan Korps Marinir (Dankormar) TNI AL, Mayjen Mar (Purn) Harry Triono memprotes pernyataan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di debat keempat lalu, yang menyebut pertahanan Indonesia rapuh.

“Yang saya tahu, TNI sekarang tidak seperti yang dikatakan dalam debat. Dengan kata-kata yang demikian bombastis, dengan kata rapuh. Menurut saya terlalu absurd. Karena itu sama dengan kita tidak bangga dengan atau tidak percaya dengan kondisi TNI sekarang,” kata Harry melalui rilis yang diterima beritajatim.com, Selasa (2/4/2019).

Harry menjelaskan, banyak hal yang bertolak belakang dalam pernyataan Prabowo di debat beberapa waktu lalu, berkaitan dengan persoalan pertahanan dan keamanan. Dia mencontohkan di aspek kebijakan.

“Tahun lalu ada Rapim Kemhan. Di sana ada 19 kebijakan dari Kemhan tentang pengembangan dan penataan kekuatan pertahanan. Kemudian di TNI sendiri, saya melihat Panglima TNI pernah membuat 11 prioritas pembangunan TNI. Salah satu yang menonjol adalah revitalisasi MEF dari TNI. Jadi, saya melihat TNI itu tidak tinggal diam,” jelas Harry.

Tak hanya itu, Harry menambahkan, dari aspek lapangan Indonesia begitu diperhitungan di dunia dari sisi pertahanan keamanan.

“Global Firepower menempatkan Indonesia berada di ranking 15 dunia, dan 1 di ASEAN. Jadi kita bisa lihat TNI cukup membangggakan, tidak rapuh seperti yang dibilang oleh Paslon nomor 02 itu,” tegasnya.

Tak hanya itu, prestasi anggota-anggota TNI juga tidak bisa dipandang remeh. Menurut Harry, Kopassus menempati tiga besar pasukan elite dunia, prajurit TNI AD 11 kali berturut-turut menjadi juara menembak di Australia. Selain itu, TNI AL setiap dua tahun terlibat dalam latihan berskala internasional, latihan multilateral ring pack yang diikuti oleh 23 negara.

“Mereka cukup menghormati dan kagum kepada TNI AL,” kata Harry. Karena itu Harry sepakat dengan gagasan modernisasi pertahanan yang disampaikan Jokowi dalam debat lalu. Jokowi, menurut Harry sudah cukup menguasai masalah pertahanan.

“Disversi kekuatan itu sangat diperlukan ditambah dengan perkembangan teknologi. Bahkan, TNI akan mengembangkan bidang cyber war/¬† atau cyber defense,” tuturnya.

Sementara itu, menyoal anggaran yang turut dibahas dalam debat lalu, Harry berpendapat, pemasalahan anggaran tidak bisa sebatas bicara anggaran pertahanan, melainkan seluruh rangkaian atau kumpulan dari anggaran dalam rangka mencapai tujuan nasional. “Anggaran pertahanan tidak dapat berdiri sendiri. Dia harus bergantung kepada kemampuan anggaran pada sektor-sektor lain,” ujar dia.

Lebih dari itu, kata Harry, kondisi spesifikasi setiap negara juga berbeda-beda, sehingga anggaran pertahanan tidak bisa disamakan dengan negara lain. “Negara tentu punya skala prioritas, tapi saya yakin dengan anggaran yang sudah dialokasikan oleh pemerintah ini, kalau tidak salah sekitar Rp 108,4 triliun itu masih memadai untuk pembangunan TNI saat ini,” pungkas Harry. [tok/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar