Politik Pemerintahan

Luas Baku Sawah di Bojonegoro 83 Ribu Hektar, Jumlah Petani Terus Berkurang

Dok. Petani di Kecamatan Kanor melakukan panen padi secara dini karena terendam banjir.

Bojonegoro (beritjaatim.com) – Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro mencatat luas baku sawah di Kabupaten Bojonegoro pada 2019 seluas 83.197 hektare. Sementara, luas penggunaan sawah di 2018 hanya 78.487 hektare, Selasa (16/2/2021).

Penentuan luas lahan baku sawah itu berpedoman pada KEPMEN ATR/KBPN NO. 686/SK-PG.03/XII/2019 tanggal 17 Desember 2019 Tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2019. Di Kabupaten Bojonegoro seluas 83.197 hektare.

Menurut Kepala Seksi Lahan dan Irigasi, Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Marsono, jumlah luas lahan pertanian dari tahun ke tahun tidak mengalami penyempitan maupun perluasan yang signifikan. “Mulai 2015 sampai 2018 luas penggunaan sawah di Bojonegoro antara 77.522 hektare hingga 78.487 hektare,” jelasnya.

Sementara, data tersebut berbanding terbalik dengan jumlah petani yang terus mengalami penurunan. Menurut Peneliti Poverty Resource Center Initiave (PRCI), Aw Syaiful Huda, sejak tahun 2013-2018, jumlah petani di Bojonegoro berkurang sekitar 24 ribu petani.

Jika mengacu data Sensus Pertanian 2013, Awe menyebutkan jumlah petani di Bojonegoro tahun 2013 sebanyak 366.484 orang, lalu berdasarkan data Survei Antar Sensus (Sutas) Pertanian tahun 2018, jumlah petani jadi sekitar 342.334 orang.

Menurut Awe, penurunan jumlah penduduk Bojonegoro yang bekerja di sektor pertanian, baik sebagai petani maupun buruh tani, sangat dimungkinkan akan terus berlanjut, jika tidak ada upaya dari pemangku kebijakan untuk melindungi dan memberdayakan para petani.

“Kontras sekali. Di satu sisi sektor pertanian tidak diminati dan mulai ditinggalkan, pada sisi yang lain kebutuhan pangan dalam negeri terus meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk,” ujarnya.

Menurutnya, para petani, terutama yang berada di kawasan pertanian produktif perlu dilindungi dan diberdayakan. Para petani tersebut perlu diberi banyak insentif, baik dari sisi finansial, keterampilan, teknologi, fasilitasi atau akses pasar secara mudah dan luas. “Para petani di kawasan pertanian produktif perlu dikonsolidasi, lalu diberi beberapa insentif sesuai kebutuhan agar menopang produktivitas pertanian,” pungkasnya. [lus/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar