Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Logo Hari Jadi Magetan Dirilis, Dapat Kritik Pedas dari Praktisi Desain

Logo Hari Jadi Magetan yang bakal digunakan untuk peringatan momen lahirnya Kabupaten Magetan pada 12 Oktober mendatang.

Magetan (beritajatim.com) – Logo Hari Jadi ke- 346 Kabupaten Magetan dapat kritik pedas dari seniman. Salah satunya MA Yusuf. Alumni Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang itu menilai logo yang berkelir kuning, oranye, hijau, dan dominan biru itu sesak.

”Melihat dari visualnya saja sudah sangat sesak. Desainnya overused. Bentuk (logogram), warna dan pemilihan font terlihat bertabrakan, seperti asal otak-atik gatuk. Sehingga memunculkan pertanyaan Mengapa eksekusinya bisa sampai seperti itu? Bagaimana briefnya?,” kata Yusuf pada beritajatim.com, Selasa (28/9/2021).

Dia mencontohkan pada bentuk telaga dan gunung. Selain sangat kecil dan terlihat dipaksakan, sebenarnya ke-khas-an Magetan tidak melulu tentang gunung dan telaga. Menurutnya, hal itu bisa dimaknai lebih luas lagi dari kesejarahannya maupun kebudayaannya yang ada.

Bisa mengambil filosofi geografisnya sebagai tempat berjumpa atau persinggahan dari banyak budaya atau mengadaptasi motif anyaman bambu ke logogram sebagai simbol kebersamaan karena sifatnya yang saling mengikat atau solid. Atau wujud bambu itu sendiri sebagai simbol tangguh.

”Perpaduan dan komposisi fontnya juga terlihat sangat mengganggu; ada sans-serif, serif, dan brush, semua dicampur-adukkan. Seperti gado-gado saja. Dan mungkin kalau bisa disertakan guidelines logonya supaya bisa diakses publik. Kan bisa untuk edukasi juga,” terang mantan desainer grafis tirto.id itu.

Dia melihat untuk keseluruhan logo juga dibandingkan dengan slogan bertajuk Bersama Kita Tangguh Magetan Tumbuh. Dia menilai hal itu akan memunculkan pertanyaan terkait representasi visual dari kebersamaan dan Magetan tumbuh.

”Ibarat Magetan itu sebuah tubuh, logo hari jadinya adalah jantung sekaligus wajah (penanda) yang ditampilkan secara bersamaan dan harus tetap mengalami pembaruan supaya tetap hidup dan relevan. Maka menjadi penting untuk lebih diseriusi desainnya; dari studi bentuk atau tanda (semiotika), pemaknaannya, hingga tahap eksekusi visualnya. Karena secara tidak langsung akan tetap merepresentasikan Magetan itu sendiri,” terangnya.

Dia menyarankan, jika memungkinkan pemerintah Magetan mengadakan sayembara desain logo untuk momen-momen penting sekelas hari jadi. Agar bisa mendobrak pakem-pakem lama dalam perwajahan desainnya karena pasti akan banyak ide baru dan mungkin juga bisa mewadahi potensi kreativitas masyarakat yang profesional di bidangnya ketika ingin berkontribusi.

”Saya yakin ada banyak kawan-kawan muda di Magetan yang punya ide segar dan sudut pandang menarik ketika memaknai Magetan menjadi sebuah logo,” pungkas Yusuf. [fiq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar