Politik Pemerintahan

Lahan Sentra Slag Aluminium di Jombang Memantik Kontroversi

Lahan untuk sentra slag aluminium di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Komisi C DPRD Jombang menggelar hearing atau dengar pendapat terkait pembangunan lahan sentra slag aluminium di Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Kamis (25/3/2021). Pasalnya, pembangunan lahan tersebut mendapat sorotan dari FRMJ (Forum Rembug Masyarakat Jombang).

Dengar pendapat dimpimpin Wakil Ketua Komisi C Miftahul Huda, sedangkan yang hadir Koordinator FRMJ (Forum Rembug Mayarakat Jombang) Joko Fatah Rochim, selaku wakil masyarakat/pengusaha yang mengeluh, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian dan Dinas Perindustrian dan Perdagang dan beberapa unsur lainnya.

Dari hearing itu terungkap, proses hibah lahan hasil urunan pengusaha yang telah menjadi anggota Koperasi Semar kepada Pemkab Jombang itu dilakukan secara pribadi oleh pimpinan koperasi berinisial BS.

Lahan yang sudah diuruk tersebut hendak digunakan sentra slag aluminium. Lahan tersebut dibeli dari hasil iuran masyarakat yang kini telah menjadi anggota Koperasi Semar. Setiap anggota diwajibkan membeli lahan dengan harga per petak Rp 94 juta. Ada 35 pengusaha yang terdaftar sebagai anggota koperasi.

“Proses hibah yang tidak melibatkan warga selaku pemilik lahan berpotensi menjadi polemik di kemudian hari. Hibah dari masyarakat kepada pemerintah itu adalah hal yang lucu dan pertama kali terjadi di Jombang,” kata Koordinator FRMJ Joko Fattah Rochim.

Menurut Fatah, hal tersebut tida masuk akal dan lucu. Karena masyarakat memberikan hibah kepada pemerintah. Padahal, lanjutnya, pemerintah-lah yang memberi fasilitas. Sudah begitu, anggota yang membeli lahan Rp 94 juta juga tidak dilibatkan saat hibah.

“Dalam hearing terungkap bahwa hibah dilakukan secara pribadi atas nama Bambang Setiawan. Ini sangat rawan kedepannya. Berpotensi menjadi polemik,” terang Fattah usai hearing.

Aktifis FRMJ mendatangi lokasi lahan sentra slag aluminium di Desa Bakalan, Sumobito

Pengurus Koperasi Semar, Sofwan, tak menampik bahwa hibah itu dilakukan secara pribadi. Hal itu dilakukan agar pembangunan sentra slag alumunium oleh pemerintah segera terealisasi. Bahkan, hal itu terjadi sebelum Koperasi Semar dibentuk pada awal 2019.

Menurut Sofwan, lahan di Desa Bakalan tersebut dibeli dengan cara urunan. Setelah itu dihibahkan ke pemerintah daerah. Tahap selanjutnya, pemerintah daerah mengusulkan pembangunannya ke pusat. Jika pembangunannya kelar, maka sentra tersebut bisa ditempati pengusaha slag aluminium.

“Pengelolaan koperasi slag alumunium itu akan dilakukan dengan sistem saham. Pengelolanya adalah koperasi. Ada sebanyak 34 petak tanah yang telah dihibahkan. Kami sudah meminta rekomendasi dari dewan untuk fasilitas perjanjian (MoU) dengan pemerintah, agar tak ada polemik di belakang hari,” kata Sofwan.

Bagaimana pendapat DPRD? Wakil Ketua Komisi C DPRD Jombang Miftahul Huda mengklaim bahwa hearing itu sudah menemukan kesepakatan. Dia juga mengatakan, meski hibah dilakukan secara pribadi, namun mekanismenya sudah sesuai aturan.

Menurut Huda, pembangunan sentra slag aluminium tersebut anggarannya dari pemerintah pusat melalui DAK (Dana Alokasi Khusus). Namun demikian, dana tersebut tidak akan turun ketika masih atas nama koperasi atau pribadi. Lahan tersebut harus atas nama Pemkab Jombang. “Makanya, saya harap ada kerjasama antara pemerintan dan Koperasi Semar,” ujarnya. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar