Politik Pemerintahan

KPK Apresiasi Sistem E-Katalog Sidoarjo

Sidoarjo (beritajatim.com) – Bupati  H. Saiful Ilah membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Rencana Aksi Program Pemberantasan Korupsi Terintegrasi Tahun 2019 yang berlangsung di Lantai 2 Ruang Delta Pemkab Sidoarjo, Jumat (12/4/2019).

Kegiatan yang bertujuan pencegahan korupsi, gratifikasi dan praktek suap ini, selain dihadiri Bupati Sidoarjo, Sekda Kab. Sidoarjo, juga diikuti seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sedangkan dari KPK RI yang hadir diantaranya Kepala Koordinator Wilayah VI KPK RI, Asep Rahmat Suwanda, Kasatgas Pencegahan Wilayah VI, Arief Nurcahyo dan Widyanto Eko, Kasatgas Direktorat Gratifikasi.

Bupati Sidoarjo  mendukung penuh langkah pencegahan yang dilakukan KPK RI di lingkungan Pemkab Sidoarjo tersebut. Ia berharap seluruh kepala OPD melakukan aksi pencegahan di lingkungan instansinya masing-masing. Dalam acara itu, H. Saiful Ilah menunjuk Insprektorat menjadi koordinator rencana aksi penerapan program pemberantasan korupsi terintegrasi di lingkungan Pemkab Sidoarjo.

“Rencana aksi program pemberantasan korupsi secara terintegrasi ini akan dikoordinir oleh Inspektorat Sidoarjo. Saya berharap Kepala OPD memberikan perhatian khusus, agar program ini bisa terlaksana sesuai harapa,” kata H. Saiful Ilah.

Berdasar hasil ekspose kasus di Jawa Timur selama kurun waktu mulai tahun 2014 – 2018 ada 18 perkara yang sudah ditangani KPK RI, separuhnya menimpa kepala daerah. Melalui Rakor evaluasi dan rencana aksi pemberantasan korupsi secara terintegrasi diharapkan akan berdampak efektif dalam pencegahan kasus korupsi, gratifikasi dan suap di lingkungan Pemkab Sidoarjo.

Dalam kesempatan tersebut, Asep mengapresiasi Bupati Sidoarjo dan jajarannya yang telah melakukan langkah-langkah strategis yang bersifat pencegahan korupsi, gratifikasi dan suap, seperti belanja produk sudah menggunakan sistem e-katalog.

Asep menambahkan, Indeks penilaian KPK menempatkan Sidoarjo di rangking 15 dari 39 kab/kota di Jawa Timur diatas rata-rata dengan nilai 73 persen. Indicator yang mendapat penilaian tinggi adalah pengelolaan APBD yang mendapat nilai 93 persen, manajemen ASN 82 persen, pelayanan perijinan 81 persen, kapabilitas pengawas aparatur intern pemerintah mendapat nilai 70 persen, pengadaan barang dan jasa 66 persen dan optimalisasi pendapatan daerah 61 persen.

“KPK mengapresiasi langkah Pemkab Sidoarjo yang telah menggunakan system e-Katalog dalam belanja produk. KPK berencana akan mereplikasi system belanja e-Katalog Sidoarjo ke daerah-daerah lain,” tandas Asep.

Sedangkan indikator yang mendapat perhatian khusus dari KPK agar segera dilakukan supervisi adalah pengelolaan dana APBDes dan Menajemen Aset Daerah. KPK menilai kedua indikator tersebut membutuhkan intervensi dan perhatian khusus.

Kasatgas Pencegahan Wil VI KPK RI, Arief Nurcahyo menyampaikan, pengelolaan dana desa mendapat indeks penilaian 32 persen dan manajemen aset daerah indeks penilaian 42 persen. Penyebab rendahya nilai pengelolaan dana desa karena publikasi RAPBDes belum dilaksanakan oleh semua desa dan transparansi pengelolaan dana desa dengan menggunakan system SISKEUDES belum ada progress.

Sedangkan penyebab rendahnya nilai manajemen asset daerah ada dua rekomendasi dari KPK. Pertama peraturan bupati/SK Bupati tentang pengelolaan BMD (Barang Milik Daerah) agar di update sesuai peraturan perundangan terbaru. Dan yang kedua data dan informasi terkait pemanfaatan BMD (data asset, pemanfaatan aset, pihak yang memanfaatkan, dan TMT pemanfaatan asset) yang disahkan oleh pejabat berwenang belum ada.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Y. Siswojo mengaku siap memfasilitasi infrastrukur yang diperlukan, seperti jaringan fiber optic sebagai penunjang kelancaran akses informasi apabila memang diperlukan. “Intinya, Dinas Kominfo siap membantu dari sisi infrastruktur jaringan dan infrastruktur yang berkaitan dengan teknologi informasi,” janji Siswojo usai mengikuti kegiatan rakor pemberantasan korupsi terintegrasi tersebut. [isa/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar