Politik Pemerintahan

Komunitas Lintas Budaya ‘Ngaji Budoyo lan Roso’ untuk Indonesia Satu

Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Bhinneka Nusantara Jokowi-Ma’ruf Amin (Jokma) Jatim mengadakan acara ‘Ngaji Budoyo lan Roso’ untuk Indonesia Satu di Sekretariatnya Jalan Trunojoyo 75 Surabaya, Sabtu (13/4/2019) malam.

Beberapa budayawan atau tokoh lintas agama tampak hadir di antaranya adalah Gathot Utomo (Ketoprak), Widayatno (Wayang Orang), Cak Kartolo (Ludruk), Subroto (Macapat), Tjahja (Pawukon), Romo Eko Setyabudi, Bingky Irawan dan Ki Donni Setiawan (Osing Banyuwangi).

“Mereka yang hadir ini ada seniman wayang orang, wayang kulit, ludruk, ketoprak, pawukon dan budaya osing Banyuwangi,” kata Ketua BN Jokma Jatim, Irawan Setiabudi didampingi Sekretaris, Ahmad Sujono kepada wartawan, Sabtu (13/4/2019) malam.

Ia mengaku sangat optimistis bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin akan bisa maksimal suaranya di Jatim dan menang dalam Pilpres 2019 ini. “Kami akan bahu membahu dengan tim relawan lain yang ada di Jatim, sehingga suara Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf bisa maksimal,” ujarnya.

Irawan mengaku sudah keliling ke beberapa daerah di Jatim untuk sowan ke beberapa tokoh lintas agama dan lintas budaya.

“Sambutannya luar biasa. Khususnya para tokoh lintas agama. Luar biasa sambutan para tokoh dan mereka siap mendukung Pak Jokowi Kiai Ma’ruf,” tuturnya.

BN Jokma Jatim, lanjut Irawan, akan menggunakan pendekatan kultur dan budaya untuk maraih simpati dan dukungan masyarakat Jatim. Karena dengan pendekatan itu, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin bisa meraih kemenangan di Jatim.

“Kami akan menggunakan cara-cara santun dan budaya dalam meraih dukungan masyarakat Jatim. Kami tidak akan melakukan cara-cara kotor, seperti menyebar hoaks dan kampanye hitam. Kami dididik cara santun dan budaya dalam meraih simpati umat dan masyarakat,” tegasnya.

Dirinya berharap jika Presiden Jokowi terpilih kembali untuk periode 2019-2024, benar-benar memenuhi janji kampanyenya untuk fokus membangun sumber daya manusia (SDM), setelah membangun infrastruktur pada periode pertama 2014-2019. Membangun SDM itu termasuk SDM para pelaku seni atau budayawan.

Kesenian di Komplek Sriwedari Solo itu bisa eksis sampai sekarang dan bisa menjadi contoh konkret. Ini karena pemerintah daerah juga ikut memperhatikan.

“Ada seniman yang diangkat sebagai PNS. Budaya tradisional yang sudah hampir punah ini akan bisa hidup lagi, jika dipegang pemimpin yang paham itu. Pembangunan SDM Indonesia harus berkualitas, berdaya saing dan berkepribadian nusantara. Negara harus hadir dengan meningkatkan sarana prasarana kesenian. Kami yakin Pak Jokowi mewujudkan itu semua,” pungkasnya. (tok/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar